MAGELANG, Juli – Penelitian yang dilakukan Fathna Zukhriyany Fitri dari Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang mengungkap pentingnya pendampingan berbasis konseling agama dalam membantu mualaf menghadapi berbagai tantangan setelah memeluk Islam. Penelitian berjudul Asistensi Pendidikan Agama Islam bagi Mualaf melalui Konseling Agama di Mualaf Center Yogyakarta ini menyoroti bagaimana pembinaan yang bersifat personal mampu memperkuat keimanan sekaligus menjadi ruang penyelesaian persoalan sosial dan psikologis yang kerap dialami para mualaf.
Penelitian ini berangkat dari fenomena bahwa proses menjadi mualaf tidak berhenti pada pengucapan syahadat. Banyak mualaf menghadapi penolakan keluarga, kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru, hingga kebingungan dalam menjalankan ajaran Islam. Karena itu, penelitian bertujuan memetakan pola asistensi Pendidikan Agama Islam melalui konseling agama di Mualaf Center Yogyakarta sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan metode kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mualaf Center Yogyakarta menerapkan model pendampingan secara one by one, sehingga setiap mualaf memperoleh materi keislaman yang disesuaikan dengan kebutuhan, latar belakang, dan persoalan masing-masing. Proses pembelajaran tidak hanya berisi materi akidah, ibadah, maupun baca Al-Qur’an, tetapi juga diimbangi sesi konsultasi mengenai persoalan keluarga, pekerjaan, pernikahan, hingga tekanan sosial yang muncul setelah konversi agama. Pendekatan ini dinilai mampu membangun hubungan yang lebih dekat antara pembimbing dan mualaf sehingga pembinaan berlangsung lebih efektif.
Fathna menemukan bahwa keberhasilan program didukung oleh komitmen kuat para pengurus, keterlibatan seluruh relawan, penggunaan panduan pembelajaran resmi, fasilitas yang memadai, pemanfaatan media sosial sebagai sarana dakwah, serta fleksibilitas metode pembinaan yang berorientasi pada kebutuhan individu. Di sisi lain, penelitian juga mencatat sejumlah tantangan, di antaranya belum tersedianya instrumen evaluasi yang baku dan belum adanya standar capaian pembelajaran bagi mualaf sehingga perkembangan peserta masih diukur secara sederhana.
Penelitian ini menegaskan bahwa pendampingan mualaf tidak cukup hanya berfokus pada pengajaran ajaran Islam, tetapi juga membutuhkan pendekatan psikologis dan sosial melalui konseling agama. Model pembinaan personal yang diterapkan Mualaf Center Yogyakarta dinilai mampu menjadi sarana bagi para mualaf untuk memperkuat religiusitas sekaligus membangun ketahanan mental dalam menghadapi dinamika kehidupan pascakonversi.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

