Mengurai Tekanan di Garda Terdepan: Mengapa Beban Kerja Perawat IGD Memicu Stres Akut?
27 July 2026

Admin KUI-KIMMI

MAGELANG, Juli — Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit kerap menjadi arena pertaruhan nyawa yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan kewaspadaan tingkat tinggi. Di balik ketangkasan para tenaga medis, ada realitas berat yang harus dipikul para perawat: tingginya beban kerja yang berbanding lurus dengan tingkat stres profesional mereka.

Fenomena ini menjadi fokus riset mendalam yang dilakukan oleh Muhammad Tamam Hanafi, peneliti dari Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma). Melalui penelitian bertajuk “Hubungan Beban Kerja Terhadap Stres Kerja Perawat di Ruang Instalasi Gawat Darurat: Literatur Review”, Tamam mengupas tuntas keterkaitan antara tekanan tugas harian dan kondisi mental garda terdepan pelayanan kesehatan.

Penelitian yang dirampungkan pada awal 2024 ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan secara komprehensif sejauh mana beban kerja—baik fisik, kognitif, maupun mental—mempengaruhi tingkat stres perawat IGD. Mengingat kondisi pasien gawat darurat yang sangat dinamis dan kerap tak terprediksi, perawat dituntut menjalankan fungsi ganda, mulai dari tindakan medis darurat hingga urusan administratif.

“Perawat IGD berada dalam situasi kerja bertensi tinggi secara kontinu. Ketika jumlah pasien tak sebanding dengan rasio tenaga medis yang ada, akumulasi beban tugas tersebut memicu tekanan emosional dan psikologis yang signifikan,” paparnya dalam laporan riset tersebut.

Melalui metode literature review terhadap berbagai kajian ilmiah terpublikasi periode 2019–2022 (termasuk riset di rumah sakit Tipe A hingga D), mayoritas studi mengonfirmasi adanya hubungan signifikan (p-value < 0,05) antara beban kerja berat dengan peningkatan stres perawat.

Temuan menunjukkan bahwa beban kerja mental perawat IGD tergolong tinggi hingga berat, yang kemudian memicu stres kerja pada kategori sedang hingga berat. Faktor pemicunya tak hanya urusan fisik seperti memindahkan pasien atau memasang alat medis, tetapi juga durasi kerja shift malam, konflik peran, serta keharusan mengambil keputusan cepat di tengah situasi kritis.

Namun, riset ini juga mencatat dinamika menarik: beberapa perawat mampu menjaga tingkat stres tetap stabil berkat mekanisme koping individu yang baik serta dukungan lingkungan kerja yang solid.

Hasil kajian ini menjadi sinyal penting bagi manajemen rumah sakit untuk tidak mengabaikan kesehatan mental tenaga kesehatan. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penataan ulang rasio jumlah perawat, perbaikan manajemen shift kerja, serta penyediaan program stress management secara berkala.

Sinergi antar-rekan kerja dan komunikasi yang sehat terbukti ampuh meredam emosi negatif di tempat kerja. Bagaimanapun, menjaga kondisi fisik dan mental perawat bukan sekadar urusan kesejahteraan individu, melainkan kunci utama dalam menjaga mutu dan keselamatan pelayanan pasien di rumah sakit.(ed.adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance