MAGELANG, Juli – Gangguan halusinasi masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan pasien dengan gangguan jiwa, khususnya skizofrenia. Berangkat dari persoalan tersebut, Wulan Intansari, mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Magelang, melakukan penelitian mengenai penerapan manajemen halusinasi yang dipadukan dengan Expressive Writing Therapy atau terapi menulis pada pasien di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soerojo Magelang.
Penelitian ini bertujuan mengaplikasikan standar intervensi keperawatan dalam mengendalikan halusinasi, sekaligus mengkaji efektivitas teknik journaling sebagai metode distraksi agar pasien mampu mengenali, mengontrol, dan mengurangi kemunculan halusinasi secara mandiri. Studi kasus dilakukan terhadap dua pasien dengan halusinasi pendengaran selama dua pekan melalui enam kali pertemuan yang mencakup proses pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, hingga evaluasi keperawatan.
Dalam pelaksanaannya, pasien diajarkan berbagai strategi mengendalikan halusinasi, mulai dari mengenali isi dan waktu munculnya halusinasi, teknik menghardik, berbicara dengan orang lain, menyusun aktivitas harian, hingga menuangkan pikiran dan emosi melalui terapi menulis. Pendekatan ini membantu pasien mengekspresikan perasaan yang selama ini terpendam sehingga dapat mengurangi tekanan psikologis yang memicu munculnya halusinasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah enam kali sesi intervensi, kedua pasien mengalami perkembangan positif. Frekuensi kemunculan halusinasi berkurang, pasien mulai mampu menerapkan teknik pengendalian secara mandiri ketika halusinasi muncul, serta menunjukkan peningkatan konsentrasi, orientasi, dan kemampuan menghadapi stimulus yang sebelumnya memicu gangguan persepsi. Selain itu, pasien juga lebih mampu berinteraksi dengan lingkungan dan menjalankan aktivitas yang telah dijadwalkan.
Menurut Wulan Intansari, kombinasi manajemen halusinasi dengan Expressive Writing Therapy menjadi pendekatan nonfarmakologis yang berpotensi mendukung keberhasilan asuhan keperawatan jiwa. Terapi ini tidak hanya membantu pasien mengenali kondisi yang dialami, tetapi juga memberikan ruang aman untuk menyalurkan emosi dan membangun kemampuan koping yang lebih adaptif. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi tenaga kesehatan, khususnya perawat jiwa, dalam mengembangkan intervensi yang lebih komprehensif bagi pasien dengan gangguan halusinasi.(ede.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

