MAGELANG, Juli – Sebuah penelitian yang dilakukan Agil Bima Aditiya Lavida, mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Magelang, mengungkap bahwa literasi keuangan menjadi faktor yang paling berkontribusi terhadap peningkatan kinerja Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Magelang. Penelitian tersebut mengangkat tema pengaruh literasi keuangan, inklusi keuangan, dan sistem informasi akuntansi terhadap kinerja UMKM dengan penerapan SAK EMKM sebagai variabel intervening.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan UMKM di Kota Magelang yang terus mengalami peningkatan jumlah usaha, aset, dan omzet. Di sisi lain, masih banyak pelaku usaha yang belum menerapkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) dalam penyusunan laporan keuangannya. Kondisi tersebut mendorong peneliti untuk mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja UMKM sekaligus melihat apakah penerapan standar pelaporan keuangan mampu menjadi penghubung antara kemampuan keuangan pelaku usaha dan keberhasilan bisnisnya.
Melalui pendekatan kuantitatif terhadap pelaku UMKM di Kota Magelang dengan analisis SEM-PLS, penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara literasi keuangan, inklusi keuangan, sistem informasi akuntansi, penerapan SAK EMKM, dan kinerja UMKM secara empiris.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan berpengaruh positif terhadap kinerja UMKM, menandakan bahwa semakin baik pemahaman pelaku usaha mengenai pengelolaan keuangan, semakin besar peluang usaha berkembang melalui peningkatan aset, omzet, maupun laba. Sementara itu, inklusi keuangan dan sistem informasi akuntansi terbukti mendorong penerapan SAK EMKM, sehingga akses terhadap layanan keuangan dan pemanfaatan sistem akuntansi berkontribusi pada penyusunan laporan keuangan yang lebih sesuai standar.
Namun demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa inklusi keuangan dan sistem informasi akuntansi belum memberikan pengaruh langsung terhadap kinerja UMKM. Temuan lain yang cukup menarik ialah penerapan SAK EMKM tidak mampu memediasi hubungan antara literasi keuangan, inklusi keuangan, maupun sistem informasi akuntansi dengan kinerja UMKM. Artinya, keberadaan standar pelaporan keuangan saja belum cukup untuk meningkatkan performa usaha tanpa didukung kemampuan pelaku usaha dalam mengelola keuangan secara efektif.
Temuan tersebut mempertegas bahwa peningkatan kualitas UMKM tidak hanya bergantung pada penerapan standar akuntansi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, terutama dalam aspek literasi keuangan. Penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah daerah, lembaga pendamping UMKM, maupun pelaku usaha untuk lebih memprioritaskan program edukasi dan pendampingan keuangan sebagai strategi meningkatkan daya saing UMKM di tengah perkembangan ekonomi yang semakin kompetitif.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

