Edukasi Manajemen Stres Terbukti Ampuh Turunkan Tingkat Stres Penderita Diabetes
29 July 2026

Admin KUI-KIMMI

MAGELANG, Juli — Penyakit Diabetes Melitus (DM) tidak hanya berdampak pada fisik penderitanya, tetapi juga memberi tekanan emosional dan psikologis yang berat. Tekanan hidup dan rasa cemas akan komplikasi kronis kerap memicu stres berpanjangan, yang pada akhirnya dapat memperburuk kondisi kesehatan penderita.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Rini Listyowati dari Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang mengungkapkan solusi efektif untuk meredakan beban psikologis tersebut. Penelitian ini menguji pengaruh promosi kesehatan manajemen stres terhadap penurunan tingkat stres pada pasien diabetes melitus di klinik.

Penelitian yang berlangsung pada pertengahan tahun 2024 ini melibatkan 30 pasien diabetes sebagai responden. Peserta dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok kontrol tanpa perlakuan khusus dan kelompok intervensi yang mendapatkan edukasi serta pelatihan manajemen stres selama 35 menit. Materi yang diberikan mencakup pemahaman pemicu stres, strategi koping emosional dan kognitif, hingga praktik langsung teknik relaksasi napas dalam.

Hasil uji statistik menunjukkan perubahan yang sangat signifikan pada kelompok intervensi. Sebelum diberikan edukasi, sebanyak 26,7 persen penderita diabetes berada pada tingkat stres berat dan 60 persen mengalami stres sedang. Namun, setelah mendapatkan edukasi manajemen stres dan mempraktikkan teknik relaksasi napas dalam, seluruh pasien yang berada di tingkat stres berat berhasil turun ke tingkat stres sedang dan ringan, dengan rata-rata penurunan skor stres mencapai 4,20 poin.

Sebaliknya, pada kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan khusus, tidak terjadi perubahan tingkat stres yang berarti, dengan selisih rata-rata skor hanya sebesar 0,13 poin. Hasil analisis membuktikan bahwa pemberian edukasi manajemen stres berpengaruh secara nyata dan bermakna dalam menurunkan tingkat stres penderita diabetes.

Secara medis, kondisi stres memicu pelepasan hormon kortisol dan adrenalin secara berlebihan yang berisiko menurunkan sensitivitas insulin serta memicu lonjakan kadar gula darah. Melalui teknik relaksasi napas dalam yang diajarkan, asupan oksigen ke otak meningkat dan merangsang sekresi serotonin. Efek rileksasi ini membantu menstabilkan denyut nadi, menurunkan tekanan darah, serta menekan produksi hormon stres.

Rini Listyowati menegaskan pentingnya integrasi edukasi psikologis dalam perawatan rutin pasien diabetes di berbagai fasilitas kesehatan. Dukungan manajemen stres yang sederhana namun terarah terbukti menjadi kunci penting untuk membantu penderita diabetes mengelola emosi, meningkatkan kualitas hidup, serta mendukung proses pemulihan kesehatan secara menyeluruh.(ed.adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance