MAGELANG, Juli — Pernikahan dini selama ini lebih sering dikaitkan dengan persoalan kesehatan reproduksi dan ekonomi. Namun, dampaknya terhadap kesehatan mental remaja masih kerap luput dari perhatian. Berangkat dari kondisi tersebut, Jasmine Nabila Maharani, peneliti dari Program Studi Psikologi S1 Universitas Muhammadiyah Magelang, meneliti efektivitas psikoedukasi dalam meningkatkan pemahaman remaja putri mengenai risiko gangguan jiwa akibat pernikahan dini.
Penelitian yang dilakukan di Kecamatan Mungkid ini mengangkat tema psikoedukasi sebagai strategi pencegahan pernikahan dini melalui peningkatan literasi kesehatan mental. Fokus utamanya bukan sekadar mengurangi angka pernikahan usia muda, tetapi membangun kesadaran remaja terhadap konsekuensi psikologis yang dapat muncul ketika memasuki pernikahan tanpa kesiapan emosional dan mental.
Menurut Jasmine, rendahnya pemahaman mengenai dampak psikologis pernikahan dini menjadi salah satu faktor yang membuat banyak remaja memandang pernikahan sebagai solusi atas berbagai persoalan hidup. Padahal, ketidaksiapan menghadapi peran baru dalam rumah tangga berpotensi memicu kecemasan, stres, depresi, hingga gangguan kejiwaan lainnya. Kondisi tersebut mendorong perlunya intervensi edukatif yang mampu memberikan pengetahuan sekaligus mengubah cara pandang remaja terhadap pernikahan dini.
Penelitian menggunakan metode quasi experiment dengan desain two-group pretest-posttest. Sebanyak 12 remaja putri berusia 13–21 tahun yang memiliki tingkat pemahaman rendah hingga sedang dilibatkan sebagai responden dan dibagi ke dalam kelompok eksperimen serta kelompok kontrol. Kelompok eksperimen memperoleh psikoedukasi mengenai risiko gangguan jiwa akibat pernikahan dini, sedangkan kelompok kontrol tidak mendapatkan intervensi yang sama.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan pada kelompok yang memperoleh psikoedukasi. Analisis statistik memperlihatkan nilai signifikansi p = 0,001 pada kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kontrol tidak mengalami perubahan berarti dengan nilai p = 0,603. Temuan ini membuktikan bahwa psikoedukasi mampu meningkatkan pemahaman remaja putri mengenai risiko gangguan jiwa yang dapat ditimbulkan oleh pernikahan dini.
Temuan tersebut memperkuat pentingnya pendekatan edukatif dalam upaya pencegahan pernikahan dini. Psikoedukasi tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membantu remaja membangun kesadaran mengenai pentingnya kematangan emosi, kesiapan menjalani peran dalam rumah tangga, serta kemampuan mengambil keputusan yang lebih bijaksana sebelum memasuki jenjang pernikahan. Penelitian ini sekaligus membuka peluang bagi sekolah, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah untuk menjadikan psikoedukasi sebagai bagian dari program edukasi remaja dalam mendukung kesehatan mental sekaligus menekan angka pernikahan dini di masyarakat.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

