Mendorong Transparansi Lingkungan, Mengapa Perusahaan Manufaktur Makin Gencar Lakukan Pengungkapan CSR?
30 July 2026

Admin KUI-KIMMI

MAGELANG, Juli — Di tengah meningkatnya tuntutan global mengenai isu kelestarian lingkungan dan transparansi bisnis, industri manufaktur di Indonesia kini dituntut untuk tidak sekadar mengejar profitabilitas bisnis semata. Tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap ekosistem yang terwujud dalam laporan Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi indikator vital bagi kelangsungan hidup entitas dalam jangka panjang.

Sebuah studi mendalam yang disusun oleh Afla Azzahra Putri, peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Magelang, membedah secara komprehensif berbagai faktor penting yang mendorong keterbukaan informasi CSR di sektor industri ini.

Penelitian berjudul “Green Accounting, Kinerja Lingkungan, Media Disclosure, dan Slack Resource Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility” tersebut menyoroti dinamika operasional perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sekaligus aktif mengikuti program penilaian kinerja lingkungan (PROPER) selama rentang waktu 2018 hingga 2022.

Fokus dan tujuan utama dari riset yang dilakukan oleh Afla Azzahra Putri adalah untuk menguji serta menganalisis pengaruh penerapan akuntansi hijau (green accounting), raihan kinerja lingkungan, keterbukaan media (media disclosure), dan keberadaan sumber daya berlebih (slack resource) terhadap luasnya pengungkapan CSR perusahaan.

Melalui pendekatan ilmiah kuantitatif, riset ini mengevaluasi 15 perusahaan manufaktur pilihan yang memenuhi kriteria pengamatan ketat selama lima tahun berturut-turut, sehingga menghasilkan total 75 unit data sampel yang diuji menggunakan metode regresi.

Berdasarkan analisis data yang mendalam, temuan dari riset ini memperkuat teori pemangku kepentingan (stakeholder theory). Hasil penelitian membuktikan bahwa green accounting, kinerja lingkungan, dan slack resource terbukti memberikan dampak positif dan signifikan terhadap peningkatan pengungkapan CSR.

Penerapan green accounting terbukti mendorong manajemen untuk mengidentifikasi serta mengalokasikan biaya-biaya penanganan lingkungan secara transparan, yang pada akhirnya memperluas cakupan laporan keberlanjutan. Sementara itu, kinerja lingkungan yang diukur melalui peringkat PROPER menunjukkan bahwa makin baik pengelolaan lingkungan suatu entitas, makin tinggi dorongan mereka untuk mempublikasikan aktivitas sosialnya guna memperkuat reputasi publik dan meraih kepercayaan investor.

Di sisi lain, ketersediaan slack resource—yaitu kelebihan cadangan dana likuiditas perusahaan—memberikan fleksibilitas bagi manajemen untuk menginvestasikan sebagian sumber daya ke dalam program-program pemberdayaan masyarakat dan pelestarian ekosistem.

Hal menarik lain yang terungkap berada pada variabel media disclosure. Pengujian statistik menunjukkan bahwa keberadaan pengungkapan melalui media situs web resmi perusahaan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengungkapan CSR. Peneliti menilai bahwa perusahaan cenderung lebih mengandalkan media pelaporan resmi seperti annual report dan laporan keberlanjutan berbasis standar Global Reporting Initiative (GRI) untuk menyampaikan komitmen CSR mereka kepada para pemangku kepentingan secara lebih komprehensif.

Secara keseluruhan, kolaborasi variabel green accounting, kinerja lingkungan, media disclosure, dan slack resource mampu menjelaskan variasi pengungkapan CSR hingga 69,8 persen. Hasil riset dari Afla Azzahra Putri ini diharapkan menjadi masukan berharga bagi para pelaku industri, regulator, dan pemangku kepentingan dalam merumuskan strategi bisnis yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga ramah lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial.(ed.adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance