MAGELANG, Juli – Tanaman dadap serep (Erythrina subumbrans) yang selama ini dikenal sebagai obat tradisional kembali menunjukkan potensi ilmiahnya. Melalui penelitian yang dilakukan Alfiyatu Rohmah, mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Magelang, daun dadap serep terbukti mengandung sejumlah senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami.
Penelitian bertajuk “Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Daun Dadap Serep Secara Kualitatif dan Studi In Silico Senyawa Golongan Flavonoid sebagai Antioksidan” ini berangkat dari meningkatnya kasus penyakit degeneratif yang dipicu oleh radikal bebas. Antioksidan dibutuhkan untuk membantu menangkal stres oksidatif, sehingga pencarian sumber antioksidan dari tanaman lokal menjadi semakin penting.
Dalam riset tersebut, Alfiyatu Rohmah melakukan identifikasi kandungan senyawa pada ekstrak etanol daun dadap serep menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT), kemudian melanjutkannya dengan studi in silico atau simulasi komputasi untuk memprediksi kemampuan senyawa flavonoid berinteraksi dengan protein target antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kandungan fitokimia daun dadap serep sekaligus mengevaluasi potensi flavonoidnya sebagai kandidat antioksidan secara molekuler.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun dadap serep positif mengandung alkaloid, flavonoid, dan polifenol. Ketiga kelompok metabolit sekunder tersebut dikenal memiliki aktivitas biologis yang berperan dalam menangkal radikal bebas. Temuan ini memperkuat pemanfaatan dadap serep sebagai tanaman obat yang memiliki prospek untuk dikembangkan lebih lanjut.
Tidak berhenti pada identifikasi senyawa, penelitian ini juga memanfaatkan pendekatan molecular docking untuk memprediksi kekuatan interaksi beberapa senyawa flavonoid dengan protein target antioksidan berkode 7Z5X. Dari sejumlah senyawa yang diuji, 5-hydroxysosphoranone menunjukkan hasil paling menjanjikan dengan nilai energi bebas Gibbs terendah, yakni -104 kkal/mol, serta mampu berikatan dengan residu asam amino metionin, glisin, dan leusin pada protein target. Nilai tersebut mengindikasikan afinitas ikatan yang kuat sehingga senyawa ini dinilai memiliki potensi sebagai kandidat antioksidan.
Temuan ini memberikan gambaran bahwa tanaman lokal seperti dadap serep tidak hanya memiliki nilai dalam pengobatan tradisional, tetapi juga menyimpan peluang untuk dikembangkan melalui pendekatan farmasi modern berbasis komputasi. Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa hasil in silico masih memerlukan pengujian lanjutan secara in vitro maupun in vivo agar manfaatnya dapat dibuktikan secara biologis sebelum diaplikasikan sebagai bahan baku obat atau produk kesehatan.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

