Magelang, Juli–Permasalahan klasik dalam rantai pasok kembali menjadi sorotan melalui penelitian yang dilakukan oleh Aji Cahyono, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Magelang. Dalam studinya, ia mengangkat tema analisis fenomena bullwhip effect dengan pendekatan optimasi supply chain pada perusahaan herbal, CV Herbal Indo Utama (HIU).
Penelitian ini berangkat dari kondisi nyata di lapangan, di mana perusahaan kerap mengalami penumpukan produk di gudang akibat ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan pasar. Fenomena ini dikenal sebagai bullwhip effect, yakni distorsi permintaan yang semakin besar di sepanjang rantai distribusi.
Aji Cahyono menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kelebihan stok (overstock), tetapi juga berpotensi menyebabkan kekurangan barang (stockout), peningkatan biaya operasional, hingga menurunnya efisiensi distribusi produk.
Melalui penelitian ini, tujuan utama yang ingin dicapai adalah menganalisis tingkat bullwhip effect, mengidentifikasi penyebabnya, serta merumuskan langkah strategis untuk mengoptimalkan sistem rantai pasok agar distribusi produk menjadi lebih efektif dan efisien.
Dengan menggunakan metode time series, penelitian ini mengolah data historis permintaan dan produksi selama satu tahun. Hasilnya menunjukkan adanya ketidakseimbangan yang cukup signifikan. Sebanyak lima produk memiliki nilai bullwhip effect di bawah parameter, yang berarti permintaan lebih tinggi dibanding produksi. Sebaliknya, lima produk lainnya justru melampaui parameter, menandakan produksi lebih besar daripada permintaan pasar.
Dalam kajiannya, Aji menegaskan bahwa nilai ideal bullwhip effect mendekati angka 1,01. Semakin mendekati angka tersebut, maka sistem supply chain perusahaan dinilai semakin optimal.
Lebih lanjut, penelitian ini juga mengungkap sejumlah faktor utama penyebab bullwhip effect, seperti ketidakakuratan peramalan permintaan, fluktuasi harga, pola pemesanan dalam jumlah besar, serta kurangnya koordinasi antar lini distribusi.
Sebagai solusi, Aji Cahyono merekomendasikan beberapa langkah strategis, antara lain memperkuat analisis segmentasi pasar, memahami pola musiman permintaan, serta meningkatkan sistem pencatatan dan pengolahan data. Selain itu, perbaikan koordinasi antar kanal distribusi juga dinilai krusial untuk menekan distorsi permintaan.
Penelitian ini menjadi gambaran nyata bahwa optimalisasi supply chain bukan sekadar konsep teoritis, melainkan kebutuhan mendesak bagi industri, khususnya sektor herbal yang memiliki fluktuasi permintaan cukup tinggi. Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjaga stabilitas pasokan di pasar. (ed. adm_kuikimmi)
Sumber:Â repositori UNIMMA

