Magelang, Juni 2026 — Keselamatan kerja di industri pengolahan kayu kembali menjadi sorotan. Muhammad Syafi’i, mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Magelang, meneliti secara mendalam potensi bahaya kerja di PT Dasar Karya Utama Magelang—sebuah perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang produksi plywood. Dalam skripsinya yang berjudul Analisis Risiko dan Strategi Pengendalian Bahaya pada Proses Produksi Plywood di PT Dasar Karya Utama Magelang, Syafi’i memotret secara rinci ancaman keselamatan yang kerap tersembunyi di balik aktivitas produksi kayu lapis yang padat mesin, debu, panas, dan bahan kimia.
Penelitian ini berangkat dari satu persoalan mendasar: industri plywood merupakan sektor dengan risiko kerja tinggi, namun sering kali ancaman keselamatannya dianggap sebagai bagian “biasa” dari rutinitas produksi. Padahal, di balik proses pemotongan kayu, pengupasan veneer, pengeringan, perekatan, hingga pengemasan, terdapat potensi bahaya serius yang dapat memicu kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja.
Muhammad Syafi’i menyoroti bahwa PT Dasar Karya Utama Magelang, yang mempekerjakan ratusan pekerja di lini produksi plywood, bergantung pada beragam mesin berat seperti mesin pengupas kayu, hot press, cold press, sizing, hingga sanding. Penggunaan mesin-mesin tersebut memang menunjang produktivitas, namun pada saat yang sama memunculkan ancaman besar: kebisingan, paparan debu kayu, suhu panas, paparan bahan kimia dari lem perekat, hingga risiko pekerja terjepit atau terluka akibat kontak langsung dengan mesin.
Tujuan utama penelitian ini adalah memetakan secara menyeluruh potensi bahaya di area produksi, mengukur tingkat risikonya, lalu merumuskan strategi pengendalian yang realistis dan aplikatif bagi perusahaan. Untuk mencapai itu, Syafi’i menggunakan dua pendekatan analisis sekaligus, yakni Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control (HIRARC) dan Job Safety Analysis (JSA). Kombinasi dua metode ini menjadi nilai lebih penelitian, karena memungkinkan identifikasi bahaya dilakukan secara lebih komprehensif—tidak hanya menilai risiko, tetapi juga memeriksa detail aktivitas kerja di setiap tahapan produksi.
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup mencolok. Dari total 13 tahapan utama dalam proses produksi plywood, Syafi’i berhasil mengidentifikasi 61 potensi bahaya. Jumlah ini tersebar mulai dari tahap persiapan bahan baku hingga proses akhir pengemasan. Setelah dianalisis, sebanyak 20 potensi bahaya masuk kategori risiko tinggi atau sekitar 32,79 persen. Sementara 27 bahaya tergolong risiko sedang (44,26 persen), dan hanya 14 bahaya yang berada pada kategori risiko rendah (22,95 persen). Artinya, lebih dari 77 persen risiko di lantai produksi membutuhkan perhatian serius dari sisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Temuan paling menonjol dalam penelitian ini adalah dominasi bahaya fisik sebagai ancaman utama pekerja. Kebisingan dari mesin produksi dan paparan debu kayu menjadi dua faktor yang dinilai paling berisiko. Kebisingan berpotensi menurunkan fungsi pendengaran pekerja dalam jangka panjang, sementara debu kayu dapat memicu gangguan pernapasan hingga penyakit akibat kerja kronis. Selain itu, suhu tinggi di area pengeringan, pencahayaan yang kurang memadai, lantai licin, serta postur kerja yang tidak ergonomis juga tercatat sebagai faktor yang memperbesar peluang kecelakaan.
Tak berhenti pada pemetaan masalah, Syafi’i juga menyusun strategi pengendalian yang dapat langsung diterapkan perusahaan. Ia merekomendasikan tiga lapis pengendalian utama. Pertama, rekayasa teknik, seperti pemasangan peredam suara pada mesin, perbaikan ventilasi, dan pengendalian debu di area produksi. Kedua, pengendalian administratif, melalui safety talk rutin, inspeksi berkala, pelatihan K3, dan pengawasan disiplin kerja. Ketiga, penguatan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), seperti masker, sarung tangan, pelindung telinga, dan sepatu keselamatan yang wajib digunakan pekerja selama proses produksi berlangsung.
Salah satu kontribusi paling penting dari penelitian ini adalah penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) teknis berbasis hasil analisis HIRARC dan JSA. SOP tersebut dirancang bukan sekadar sebagai dokumen formal, melainkan panduan operasional yang dapat digunakan langsung di lapangan. Dengan SOP ini, setiap tahapan kerja diharapkan memiliki standar keselamatan yang jelas, terukur, dan mudah diterapkan oleh pekerja maupun pengawas.
Melalui penelitian ini, Muhammad Syafi’i menegaskan bahwa produktivitas industri tidak seharusnya dibayar dengan tingginya risiko keselamatan pekerja. Di tengah tuntutan efisiensi industri, keselamatan kerja justru harus ditempatkan sebagai fondasi utama. Penelitian ini bukan hanya penting bagi PT Dasar Karya Utama Magelang, tetapi juga menjadi cermin bagi industri pengolahan kayu secara umum: bahwa peningkatan produksi harus berjalan seiring dengan perlindungan pekerja.(ed. Sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

