Magelang, 23 September 2025 – Tanaman mengkudu (Morinda citrifolia) yang sering ditemui di pekarangan masyarakat ternyata menyimpan potensi besar di bidang kesehatan. Buah beraroma khas ini sejak lama dikenal dalam pengobatan tradisional, namun efektivitasnya sebagai antibakteri modern belum banyak dipahami secara luas. Hal ini mendorong Asmaul Husna, mahasiswa Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang, meneliti lebih dalam melalui skripsi berjudul “Perbandingan Daya Hambat Ekstrak Daun, Buah, dan Biji Mengkudu terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli: Literature Review”.
Tema Penelitian
Penelitian ini membahas daya hambat ekstrak berbagai bagian tanaman mengkudu terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Keduanya adalah bakteri yang paling sering menimbulkan masalah kesehatan. Staphylococcus aureus termasuk bakteri Gram positif penyebab infeksi kulit, abses, hingga pneumonia. Sementara Escherichia coli adalah bakteri Gram negatif yang kerap menjadi penyebab diare, infeksi saluran kemih, bahkan keracunan makanan.
Asmaul menekankan bahwa eksplorasi tanaman herbal seperti mengkudu menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kasus resistensi antibiotik akibat penggunaan obat kimia berlebihan.
Tujuan Penelitian
Dalam penelitiannya, Asmaul Husna merumuskan dua tujuan utama:
- Membandingkan efektivitas daya hambat ekstrak daun, buah, dan biji mengkudu terhadap pertumbuhan S. aureus dan E. coli.
- Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi aktivitas antibakteri, seperti jenis pelarut, konsentrasi ekstrak, serta asal daerah tanaman.
Dengan kajian ini, Asmaul berharap memberikan gambaran jelas tentang bagian mana dari tanaman mengkudu yang paling potensial untuk dikembangkan sebagai bahan obat antibakteri.
Metodologi
Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan menelaah delapan artikel ilmiah yang diterbitkan dalam rentang waktu 2016–2021. Artikel dipilih melalui tahapan seleksi sistematis menggunakan metode PRISMA. Analisis difokuskan pada hasil uji daya hambat ekstrak mengkudu dalam berbagai bentuk pelarut terhadap dua jenis bakteri uji tersebut.
Hasil Penelitian
Hasil telaah menunjukkan bahwa ekstrak buah mengkudu memberikan daya hambat paling tinggi, baik terhadap bakteri S. aureus maupun E. coli. Pada beberapa penelitian, zona hambat yang dihasilkan mencapai lebih dari 20 mm, yang dikategorikan sebagai antibakteri kuat hingga sangat kuat.
-
Ekstrak buah mengkudu: Terbukti paling efektif karena mengandung fenol, flavonoid, dan alkaloid dalam jumlah tinggi yang mampu merusak membran sel bakteri.
-
Ekstrak daun mengkudu: Memberikan aktivitas antibakteri dengan kategori sedang hingga kuat. Efektivitasnya bergantung pada pelarut; etanol dan metanol terbukti lebih optimal dalam mengekstrak senyawa aktif.
-
Ekstrak biji mengkudu: Aktivitas antibakterinya paling lemah. Zona hambat yang dihasilkan relatif kecil, rata-rata di bawah 6 mm, dan hanya terlihat pada konsentrasi tinggi.
Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa pemilihan pelarut sangat menentukan hasil. Pelarut polar seperti etanol dan metanol lebih baik menarik senyawa aktif dibandingkan pelarut non-polar. Konsentrasi ekstrak juga berbanding lurus dengan kekuatan antibakteri; semakin tinggi konsentrasi, semakin besar zona hambat yang terbentuk.
Kesimpulan
Dalam simpulannya, Asmaul Husna menegaskan bahwa buah mengkudu memiliki potensi terbesar untuk dikembangkan sebagai agen antibakteri alami, diikuti daun, sedangkan biji memiliki efektivitas paling rendah. Hal ini selaras dengan kandungan fitokimia pada buah yang lebih melimpah, terutama senyawa fenolik dan flavonoid.
Penelitian ini memperkuat bukti ilmiah bahwa tanaman lokal seperti mengkudu tidak hanya bernilai tradisional, tetapi juga berpotensi besar menjadi bahan dasar pengembangan obat herbal modern. Jika dikembangkan lebih lanjut, ekstrak buah mengkudu bisa menjadi alternatif antibakteri alami yang lebih aman, terjangkau, dan berkelanjutan.
“Buah mengkudu terbukti paling unggul sebagai antibakteri alami. Temuan ini dapat menjadi langkah awal pemanfaatan tanaman lokal untuk mengatasi masalah resistensi antibiotik,” ungkap Asmaul Husna dalam simpulan penelitiannya. (ed:Adella)
sumber: repository UNIMMA

