Magelang 25 Agustus 2025 – Penelitian Mariza Ningtyas Febriyanti, Universitas Muhammadiyah Magelang
Perkembangan perusahaan rintisan atau startup di Indonesia terus mengalami lonjakan dalam satu dekade terakhir. Indonesia bahkan menempati peringkat kelima dunia dengan lebih dari dua ribu startup aktif. Namun, di balik pertumbuhan yang pesat, angka kegagalan usaha ini masih sangat tinggi, mencapai 95 persen. Salah satu penyebab utamanya adalah lemahnya komitmen organisasi para karyawan.
Fenomena tersebut menjadi titik berangkat penelitian Mariza Ningtyas Febriyanti, mahasiswa Fakultas Psikologi dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Magelang. Melalui skripsinya berjudul “Pengaruh Budaya Organisasi dan Fleksibilitas terhadap Komitmen Organisasi pada Karyawan di Perusahaan Rintisan (Startup)”, Mariza berusaha menelusuri faktor-faktor yang membentuk loyalitas serta komitmen pekerja di lingkungan startup.
Dalam paparannya, Mariza menjelaskan bahwa startup berbeda dengan perusahaan konvensional. Lingkungan kerja yang fleksibel, hirarki yang datar, serta atmosfer inovatif kerap menjadi daya tarik generasi muda. Namun, justru faktor inilah yang sering menimbulkan masalah: tanpa fondasi budaya organisasi yang kuat, fleksibilitas bisa berbalik menjadi kebingungan dan ketidakpastian aturan.
Penelitian ini melibatkan 69 responden yang bekerja minimal enam bulan di perusahaan rintisan, baik sebagai pegawai tetap maupun kontrak. Mereka berasal dari beragam bidang, mulai dari e-commerce, teknologi pendidikan, kesehatan digital, hingga layanan keuangan. Responden mengisi kuesioner yang dirancang untuk mengukur tiga aspek utama: budaya organisasi, fleksibilitas kerja, dan komitmen organisasi. Data kemudian diolah dengan uji regresi linear berganda menggunakan software SPSS.
Hasil penelitian menegaskan beberapa poin penting. Pertama, budaya organisasi terbukti berpengaruh signifikan terhadap komitmen organisasi karyawan startup. Nilai signifikansi tercatat 0,000, jauh di bawah ambang 0,05, dengan t hitung 3,816 yang melampaui nilai t tabel. Artinya, semakin kuat nilai-nilai budaya yang dibangun perusahaan—seperti transparansi, pertukaran ide yang bebas, dan stimulasi inovasi—semakin besar pula keterikatan emosional dan loyalitas karyawan.
Sebaliknya, fleksibilitas kerja tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan terhadap komitmen organisasi. Nilai signifikansi sebesar 0,070 lebih tinggi dari batas 0,05, dengan t hitung -1,843. Temuan ini cukup menarik karena menantang asumsi umum bahwa jam kerja fleksibel otomatis meningkatkan loyalitas karyawan. Mariza berpendapat, fleksibilitas memang dihargai oleh pekerja muda, namun jika tidak diimbangi dengan budaya organisasi yang jelas, fleksibilitas justru bisa menimbulkan ketidakpastian dan melemahkan rasa keterikatan pada perusahaan.
Lebih jauh lagi, ketika diuji secara simultan, budaya organisasi dan fleksibilitas bersama-sama tetap berpengaruh terhadap komitmen karyawan, meskipun efeknya relatif kecil. Nilai R square hanya 18,5%, yang berarti masih ada sekitar 81,5% faktor lain di luar dua variabel ini yang ikut menentukan kuat-lemahnya komitmen organisasi. Faktor tersebut bisa berupa kepemimpinan, sistem penghargaan, atau bahkan kondisi ekonomi makro.
“Temuan ini penting bagi perusahaan rintisan yang ingin bertahan di tengah persaingan,” tulis Mariza dalam laporannya. Ia menegaskan, startup tidak cukup hanya menawarkan jam kerja fleksibel atau suasana santai. Yang lebih menentukan adalah bagaimana perusahaan menanamkan nilai, menciptakan kultur kerja yang solid, serta memberikan ruang bagi karyawan untuk berinovasi.
Implikasi praktis dari penelitian ini cukup jelas. Bagi para pendiri startup, memperkuat budaya organisasi harus menjadi prioritas utama. Nilai-nilai yang disepakati bersama dapat menumbuhkan rasa memiliki, mendorong loyalitas, dan akhirnya meningkatkan produktivitas. Fleksibilitas tetap dapat dipertahankan sebagai daya tarik, namun harus diimbangi dengan aturan dan struktur yang jelas agar tidak kehilangan arah.
Pada akhirnya, penelitian Mariza Ningtyas Febriyanti memberikan kontribusi penting dalam kajian psikologi industri dan organisasi, khususnya di sektor startup yang masih relatif baru di Indonesia. Penelitiannya menunjukkan bahwa di balik semangat fleksibilitas dan inovasi, kunci keberlangsungan perusahaan rintisan tetap terletak pada budaya organisasi yang kuat. Tanpa itu, startup berisiko menjadi bagian dari statistik kegagalan yang mencapai 95 persen. (ed :noviyanti)
sumber : repository UNIMMA

