Magelang, Juni 2026 – Pengembangan desa wisata di kawasan Borobudur terbukti menjadi salah satu motor penggerak ekonomi masyarakat pedesaan. Melalui pemanfaatan potensi budaya, alam, dan kearifan lokal, desa-desa wisata tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga membuka peluang kerja, menggerakkan UMKM, serta meningkatkan pendapatan warga. Temuan tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Nursan Safety Maghvira, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Magelang, dalam skripsinya yang berjudul “Implementasi Desa Wisata dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Kecamatan Borobudur”.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh besarnya potensi pariwisata yang dimiliki Kecamatan Borobudur. Kawasan yang dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia ini memiliki sedikitnya 20 desa wisata dengan berbagai tingkat perkembangan, mulai dari kategori rintisan, berkembang, hingga maju. Kehadiran desa wisata dipandang sebagai strategi penting dalam pemerataan manfaat ekonomi pariwisata agar tidak hanya terpusat di kawasan Candi Borobudur, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat desa di sekitarnya.
Dalam penelitiannya, Nursan bertujuan untuk menganalisis sejauh mana implementasi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan dijalankan di Kecamatan Borobudur, mengidentifikasi dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat, serta mengkaji berbagai hambatan yang muncul dalam pelaksanaannya. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan pengelola desa wisata, perangkat desa, pelaku usaha lokal, hingga masyarakat setempat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi desa wisata di Kecamatan Borobudur telah memberikan dampak positif yang cukup signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Berbagai desa wisata seperti Candirejo, Wanurejo, dan Karangrejo berhasil mengembangkan potensi lokal melalui pengelolaan homestay, jasa pemandu wisata, pertunjukan seni tradisional, kerajinan tangan, hingga kuliner khas daerah. Aktivitas tersebut menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan bagi warga sekaligus memperkuat ekonomi lokal berbasis masyarakat.
Selain meningkatkan pendapatan, keberadaan desa wisata juga mampu membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar. Pertumbuhan sektor pariwisata mendorong berkembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sehingga semakin banyak warga yang terlibat secara langsung dalam aktivitas ekonomi produktif. Tidak hanya itu, pengembangan desa wisata turut berkontribusi terhadap pelestarian budaya lokal dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat.
Namun demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa manfaat desa wisata belum dirasakan secara merata di seluruh wilayah Borobudur. Sejumlah desa masih menghadapi berbagai kendala yang menghambat optimalisasi program. Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan sumber daya manusia, baik dari segi jumlah maupun kompetensi. Beberapa desa wisata masih kekurangan tenaga pengelola yang profesional, sementara kemampuan manajerial kelembagaan desa juga dinilai belum sepenuhnya memadai.
Hambatan lain yang cukup menonjol adalah rendahnya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan dan pengelolaan desa wisata. Sebagian warga masih belum memahami secara utuh konsep desa wisata dan manfaat ekonomi yang dapat diperoleh. Selain itu, lemahnya koordinasi antarinstansi pemerintah, keterbatasan modal usaha, minimnya akses pembiayaan, hingga belum optimalnya promosi digital juga menjadi faktor yang memperlambat perkembangan beberapa desa wisata.
Berdasarkan temuannya, Nursan menyimpulkan bahwa implementasi desa wisata di Kecamatan Borobudur saat ini berada pada tahap berkembang. Sebagian desa telah menunjukkan kemajuan nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sementara sebagian lainnya masih memerlukan pendampingan, penguatan kapasitas, serta dukungan kebijakan yang lebih terarah. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa desa wisata bukan sekadar destinasi kunjungan, melainkan instrumen pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Jika dikelola secara profesional dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha, desa wisata berpotensi menjadi pilar penting dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal di kawasan Borobudur. (ed. Sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

