E-Learning Dosen Dinilai Kurang Ramah, Mahasiswa UNIMMA Tawarkan Desain Baru
25 August 2025

mimin

Magelang, 25 Agustus 2025 – Iqbal Ridwan Darmawan, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), melakukan penelitian menarik tentang kualitas tampilan aplikasi pembelajaran daring MOCA (My Online Class). Aplikasi ini digunakan sebagai portal e-learning kampus, khususnya untuk menunjang kegiatan mengajar dosen selama masa pandemi Covid-19.

Dalam skripsinya, Iqbal mengulik persoalan yang sering dikeluhkan dosen. Mulai dari menu yang membingungkan, dashboard yang kurang ramah mata, hingga fitur yang terasa tidak praktis. “Harusnya e-learning jadi alat bantu, bukan bikin tambah pusing,” ujar Iqbal ketika memaparkan penelitiannya.

Untuk membuktikan keluhan itu, ia menggunakan metode internasional bernama System Usability Scale (SUS). Iqbal membagikan kuesioner khusus kepada 61 dosen UNIMMA. Hasilnya cukup mengejutkan: MOCA hanya meraih skor 64, lebih rendah dari nilai rata-rata ideal yaitu 68.

Dengan nilai tersebut, sistem dinyatakan masih dalam kategori “cukup, tapi butuh perbaikan”. Dalam istilah akademis, MOCA mendapat predikat “D”. Artinya, bisa dipakai, tapi jelas belum memuaskan.

Beberapa temuan menarik dari penelitian ini antara lain:

  • 26 persen dosen merasa fitur MOCA masih rumit.

  • 23 persen mengaku perlu bantuan orang lain untuk mengoperasikannya.

  • 34 persen harus beradaptasi dulu sebelum bisa nyaman menggunakan sistem.

“Secara keseluruhan, MOCA bisa jalan, tapi tidak mulus. Dosen masih harus kerja ekstra untuk sekadar memahami cara pakainya,” tulis Iqbal dalam laporannya.

Namun, Iqbal tidak berhenti pada kritik. Ia juga merancang prototipe tampilan baru berdasarkan masukan para dosen. Perubahan yang diusulkan meliputi penyederhanaan menu, perbaikan tampilan dashboard, serta penambahan fitur bantuan agar lebih mudah digunakan.

Prototipe ini kemudian diuji kembali dengan metode evaluasi lain. Hasilnya, lima dosen yang mencoba desain baru tersebut memberikan nilai rata-rata 4,32 dari 5. Artinya, mereka merasa puas dengan rancangan antarmuka yang diusulkan.

“Kalau tampilan baru ini diterapkan, MOCA akan jauh lebih bersahabat. Dosen tidak lagi kehilangan waktu hanya untuk memahami letak menu,” tambahnya.

Penelitian ini memberi pesan penting: teknologi yang canggih tidak ada gunanya kalau sulit dipakai. Justru desain sederhana, jelas, dan konsistenlah yang membuat pengguna betah.

Iqbal berharap, hasil penelitiannya bisa menjadi bahan pertimbangan bagi kampus dalam mengembangkan MOCA lebih lanjut. “Kalau dosen sudah nyaman, otomatis kegiatan belajar mengajar juga akan lebih lancar,” ujarnya.

Kisah ini menunjukkan bahwa mahasiswa pun bisa memberi kontribusi nyata untuk kampusnya. Di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, penelitian semacam ini menjadi pengingat bahwa teknologi bukan hanya soal fitur, melainkan juga soal manusia yang menggunakannya.

Dengan semangat penelitian yang ditunjukkan Iqbal, UNIMMA membuktikan bahwa inovasi bisa lahir dari ruang kelas sendiri. Siapa sangka, kritik dan ide segar seorang mahasiswa justru bisa membuka jalan menuju sistem pembelajaran daring yang lebih baik bagi para dosen dan mahasiswa di Magelang. editor : Yunda Sara

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance