Magelang, 19 November 2025 – Upaya menekan biaya operasional menjadi salah satu agenda besar di banyak perusahaan manufaktur saat ini, termasuk PT Poetra Mandiri Karton—sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produksi kertas karton di Magelang. Tantangan terbesar perusahaan tersebut ternyata tidak hanya terletak pada proses produksi, melainkan juga pada cara mereka mengelola persediaan bahan baku. Masalah inilah yang kemudian diteliti oleh Muhammad Ario Wicaksono, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Magelang, dalam skripsinya tahun 2021.
Dalam penelitiannya, Ario menemukan bahwa sistem pengadaan bahan baku di PT Poetra Mandiri Karton masih didasarkan pada pengalaman dan kebiasaan masa lalu. Keputusan pemesanan bahan baku dilakukan tanpa analisis metode apa pun, sehingga sering kali tidak efisien. Kondisi ini tidak hanya mengakibatkan tingginya biaya persediaan, tetapi juga menimbulkan risiko penumpukan bahan baku maupun kekurangan material yang dapat menghambat produksi.
Melihat persoalan tersebut, Ario mencoba menawarkan pendekatan yang lebih sistematis melalui metode Material Requirement Planning (MRP) yang dipadukan dengan beberapa teknik lot sizing, antara lain Lot for Lot (LFL), Economic Order Quantity (EOQ), Period Order Quantity (POQ), serta Least Unit Cost (LUC). Tujuannya jelas: menentukan metode mana yang paling efisien bagi perusahaan dalam menjaga kontinuitas produksi sekaligus menekan biaya persediaan.
Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data pemakaian kertas karton, biaya pemesanan, biaya penyimpanan, serta pola pembelian bahan baku selama tahun 2019. Dari data tersebut, Ario menyusun perhitungan komprehensif menggunakan masing-masing metode lot sizing untuk kemudian dibandingkan total biayanya.
Hasil yang ia temukan cukup menarik. Dua metode, yaitu Lot for Lot (LFL) dan Least Unit Cost (LUC), menghasilkan biaya total persediaan paling rendah dibanding metode lainnya. Kedua metode tersebut mampu menekan biaya persediaan hingga Rp 695.930.520, atau memberikan penghematan sekitar Rp 65.648.045—setara 8,62% dibandingkan biaya yang dikeluarkan perusahaan sebelumnya.
Dari sisi pembelian bahan baku, metode LFL dan LUC juga terbukti lebih efisien. Terdapat penurunan biaya pembelian sebesar Rp 63.205.650 (sekitar 8,38%), disertai pengurangan biaya pemesanan sebesar Rp 1.017.380 (16,5%). Bahkan biaya penyimpanan mengalami penurunan drastis hingga 100%, karena pada metode LFL maupun LUC tidak ada stok mengendap, semua bahan baku dipesan sesuai kebutuhan setiap periode.
Sebagai pembanding, metode lain seperti EOQ dan POQ juga memberikan efisiensi, tetapi tidak seoptimal dua metode sebelumnya. EOQ menghasilkan total biaya persediaan sebesar Rp 712.511.835, sedangkan POQ menghasilkan Rp 699.809.475. Keduanya tetap lebih rendah dibanding sistem perusahaan yang mencapai Rp 761.578.565, namun selisih efisiensinya tidak sebesar LFL dan LUC.
Melalui hasil penelitian tersebut, Ario memberikan rekomendasi bahwa PT Poetra Mandiri Karton sebaiknya menerapkan metode Lot for Lot atau Least Unit Cost dalam perencanaan kebutuhan bahan bakunya. Selain lebih hemat, kedua metode ini dianggap paling sesuai dengan karakteristik permintaan bahan baku kertas yang fluktuatif dan memiliki risiko penyimpanan tinggi.
Penelitian ini sekaligus memberikan gambaran bahwa keputusan pengendalian persediaan bukan sekadar aktivitas administratif, melainkan strategi penting yang mampu memengaruhi biaya operasional secara signifikan. Dengan menerapkan metode perencanaan yang tepat, perusahaan tidak hanya dapat menjaga kelancaran produksi, tetapi juga menekan biaya secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, karya Muhammad Ario Wicaksono ini tidak hanya menjadi pemenuhan tugas akademik, tetapi juga membawa manfaat praktis bagi dunia industri, khususnya dalam memberikan contoh nyata bagaimana teknik-teknik analitis dapat membantu sebuah perusahaan mencapai efisiensi optimal. (ed. sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

