Guru PAI Jadi Garda Terdepan Pembinaan Etika Berbusana Muslimah di SMK Negeri 1 Magelang
29 June 2026

mimin

Magelang, Juni 2026 –Di tengah derasnya pengaruh tren fesyen dan media sosial terhadap gaya hidup remaja, peran sekolah dalam membentuk karakter peserta didik menjadi semakin penting. Hal itulah yang menjadi fokus penelitian Afdany Habibie, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang, melalui skripsinya yang berjudul “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina Etika Penampilan Siswi Muslimah di SMK Negeri 1 Magelang.”

Penelitian ini berangkat dari fenomena masih adanya sebagian siswi muslimah yang belum sepenuhnya menerapkan etika penampilan sesuai syariat Islam, meskipun sekolah telah memiliki regulasi yang mengatur tata cara berpakaian dan berpenampilan. Menurut Afdany, kajian-kajian sebelumnya lebih banyak membahas religiusitas peserta didik, sementara pembahasan mengenai strategi konkret guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membina etika penampilan masih relatif terbatas.

Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap guru PAI, pihak sekolah, serta siswi di SMK Negeri 1 Magelang. Tujuan utamanya adalah menggali gambaran etika penampilan siswi muslimah, mengidentifikasi peran guru PAI dalam pembinaan, serta menemukan faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi keberhasilan program tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tingkat kepatuhan siswi terhadap aturan berpakaian di sekolah tergolong baik. Mayoritas siswi telah mengenakan jilbab, rok panjang, dan berupaya menghindari penggunaan riasan berlebihan selama berada di lingkungan sekolah. Bahkan, pada tingkat kelas XII, kesadaran berbusana sesuai aturan dinilai semakin kuat seiring persiapan mereka memasuki dunia kerja. Namun demikian, masih ditemukan sejumlah pelanggaran, seperti penggunaan lipstik, pakaian yang terlalu ketat, hingga cara berhijab yang kurang sesuai dengan ketentuan sekolah.

Dalam pembinaan tersebut, guru PAI memainkan peran yang sangat strategis. Penelitian menemukan bahwa guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik, motivator, pembimbing, dan teladan bagi para siswi. Melalui pembelajaran di kelas, guru menanamkan pemahaman mengenai kewajiban menutup aurat, pentingnya menjaga kehormatan diri, serta bahaya pergaulan bebas. Materi tersebut terutama diberikan pada pembelajaran kelas X yang membahas larangan zina dan pentingnya menjaga aurat sebagai bagian dari identitas muslimah.

Selain melalui pembelajaran formal, guru PAI juga mengembangkan pembinaan melalui berbagai kegiatan keagamaan. Salah satunya adalah Kajian Keputrian yang dilaksanakan secara rutin setiap Jumat. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi sekaligus sarana penguatan pemahaman keagamaan bagi siswi. Di samping itu, sekolah juga memiliki organisasi Rohis yang aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan keislaman, termasuk tabligh akbar dan mentoring khusus bagi siswi.

Aspek keteladanan menjadi salah satu temuan penting dalam penelitian ini. Guru PAI berupaya memberikan contoh langsung melalui penampilan dan perilaku sehari-hari. Guru perempuan mengenakan pakaian yang menutup aurat, berhijab dengan baik, serta menghindari penggunaan riasan mencolok. Sementara guru laki-laki tampil rapi dan menunjukkan identitas religius dalam kesehariannya. Sikap ini dinilai efektif karena peserta didik cenderung meniru perilaku yang mereka lihat dari figur yang dihormati.

Pembinaan juga diperkuat melalui pendekatan disiplin yang terstruktur. Sekolah menerapkan pengecekan penampilan setiap pagi melalui kegiatan salam pagi, pemeriksaan atribut, serta razia penampilan secara berkala. Bagi siswi yang melanggar aturan, guru menerapkan sanksi edukatif, seperti menghafal surat-surat pendek, membaca selawat, atau memperbaiki langsung penampilan yang tidak sesuai aturan. Pendekatan ini dilakukan bukan untuk menghukum semata, melainkan sebagai sarana pembelajaran dan pembiasaan nilai-nilai religius.

Penelitian ini juga mengungkap sejumlah faktor yang mendukung keberhasilan pembinaan. Di antaranya adalah keberadaan tata tertib sekolah yang tegas, program-program keagamaan yang berjalan konsisten, serta kolaborasi seluruh guru dalam mengawasi dan membimbing peserta didik. Lingkungan sekolah yang menekankan standar kedisiplinan dan grooming turut memperkuat upaya tersebut.

Di sisi lain, tantangan terbesar justru berasal dari luar sekolah. Kurangnya ketegasan sebagian orang tua dalam membimbing anak, pengaruh teman sebaya, serta tren fesyen dan media sosial menjadi faktor yang kerap menghambat proses internalisasi nilai-nilai berbusana Islami. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembinaan tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah, tetapi membutuhkan dukungan keluarga dan lingkungan sosial yang sejalan.

Melalui penelitian ini, Afdany Habibie menyimpulkan bahwa pembinaan etika penampilan muslimah akan berjalan lebih efektif apabila terdapat sinergi yang kuat antara sekolah, guru, dan keluarga. Dengan kolaborasi tersebut, etika berbusana tidak hanya menjadi bentuk kepatuhan terhadap aturan sekolah, tetapi berkembang menjadi kesadaran pribadi yang melekat dalam kehidupan sehari-hari siswi muslimah. (ed. Sulistya)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance