Hukuman Berpengaruh terhadap Kedisiplinan Santri di Ponpes Luqman Al-Hakim Magelang
17 June 2026

mimin

Magelang, Juni 2026 — Disiplin menjadi salah satu fondasi utama dalam kehidupan pesantren. Mulai dari jadwal ibadah, kegiatan belajar, hingga aktivitas keseharian santri, seluruhnya dituntut berjalan tertib sesuai aturan yang berlaku. Namun, bagaimana jika kedisiplinan itu dibentuk melalui sistem hukuman? Pertanyaan inilah yang diangkat dalam penelitian terbaru yang dilakukan Mohammad Hilmi Robbani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang.

Melalui skripsinya yang berjudul “Pengaruh Hukuman terhadap Kedisiplinan Santri di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Luqman Al-Hakim Kabupaten Magelang”, Hilmi menyoroti fenomena kedisiplinan di lingkungan pesantren yang selama ini identik dengan aturan ketat dan penerapan sanksi bagi pelanggar tata tertib.

Dalam penelitiannya, Hilmi menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Luqman Al-Hakim Kabupaten Magelang merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang menanamkan nilai disiplin dalam kehidupan santri. Namun dalam praktiknya, masih ditemukan sejumlah pelanggaran yang dilakukan santri putra, seperti terlambat mengikuti salat berjamaah, terlambat mengaji, keluar pondok tanpa izin, tidak melaksanakan piket harian, hingga tidak menggunakan bahasa yang telah ditetapkan pondok.

Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat aktivitas pendidikan di lingkungan pesantren. Karena itu, pengurus pondok menerapkan sejumlah bentuk hukuman sebagai konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukan santri. “Hukuman yang diberikan berupa teguran lisan, hukuman fisik ringan, hingga membersihkan lingkungan pondok,” tulis Hilmi dalam penelitiannya.

Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk mengetahui apakah hukuman yang diterapkan di pesantren benar-benar berpengaruh terhadap tingkat kedisiplinan santri. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Hilmi menggunakan metode penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan langsung di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Luqman Al-Hakim dengan melibatkan seluruh santri putra yang berjumlah 40 orang sebagai responden.

Data dikumpulkan melalui penyebaran angket yang mengukur dua variabel utama, yakni variabel hukuman sebagai faktor independen dan variabel kedisiplinan santri sebagai faktor dependen. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistics 20 untuk mengetahui hubungan antarvariabel secara statistik. Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup menarik. Berdasarkan uji Anova, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000, yang berarti lebih kecil dari batas signifikansi 0,05. Artinya, terdapat pengaruh signifikan antara pemberian hukuman terhadap kedisiplinan santri di pondok tersebut.

Tak hanya itu, hasil uji regresi linier sederhana melalui model summary menunjukkan nilai R Square sebesar 0,412 atau 41,2 persen. Angka tersebut mengindikasikan bahwa hukuman memberikan kontribusi sebesar 41,2 persen terhadap pembentukan kedisiplinan santri. Sementara itu, sisanya sebesar 58,8 persen dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel hukuman, seperti lingkungan keluarga, pendidikan, kesadaran pribadi santri, serta lingkungan sosial di sekitar pesantren.

Temuan ini memperlihatkan bahwa hukuman memang memiliki peran dalam membangun kedisiplinan, namun bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pembinaan karakter santri. Hilmi menegaskan bahwa hukuman yang diterapkan seharusnya tetap bersifat edukatif, bukan semata-mata memberi efek jera. Hukuman perlu diarahkan sebagai bagian dari proses pembinaan moral agar santri memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan.

Penelitian ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi lembaga pesantren dalam merancang sistem pembinaan disiplin yang lebih efektif dan manusiawi. Di tengah tantangan pendidikan karakter saat ini, pendekatan disiplin berbasis kesadaran dinilai tetap menjadi solusi jangka panjang yang lebih ideal dibanding hanya mengandalkan hukuman semata. Riset ini menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga laboratorium sosial dalam membentuk karakter generasi muda yang disiplin, bertanggung jawab, dan berakhlak.(ed. Sulistya)

Sumber: repositori UNIMMA

 

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance