Insiden Keselamatan Pasien: Catatan Penting dari Dunia Keperawatan
1 September 2025

Istiarni Atin

Magelang, 01 September 2025 – Rumah sakit sejatinya adalah tempat pemulihan. Namun, di balik upaya penyembuhan, kadang justru muncul ancaman baru: insiden keselamatan pasien. Fenomena inilah yang menjadi sorotan Ratna Dwi Rahmawati, mahasiswi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Magelang. Dalam skripsinya, ia mengupas tuntas berbagai penelitian terkait insiden keselamatan pasien melalui metode literature review.

Latar Belakang

Keselamatan pasien merupakan indikator penting kualitas layanan kesehatan. Menurut Permenkes RI 2017, program keselamatan pasien mencakup asesmen risiko, pelaporan insiden, hingga tindak lanjut untuk mencegah cedera akibat kesalahan tindakan medis. Namun, data nasional menunjukkan kenyataan pahit. Sepanjang 2019, tercatat 7.465 kasus insiden keselamatan pasien di berbagai rumah sakit di Indonesia. Mulai dari kejadian nyaris cedera hingga insiden sentinel yang menyebabkan kematian.

Bagi rumah sakit, setiap insiden bukan sekadar angka statistik. Reputasi, kepercayaan masyarakat, hingga mutu layanan ikut dipertaruhkan. Di sisi lain, pasien menjadi korban langsung yang menanggung risiko fisik maupun psikis.

Tujuan Penelitian

Ratna merumuskan tujuan penelitiannya sederhana namun krusial: menggambarkan insiden keselamatan pasien serta mengidentifikasi penyebabnya berdasarkan karakteristik perawat. Faktor yang ditelaah meliputi usia, pengetahuan, komunikasi, kerjasama tim, implementasi SOP, hingga interupsi kerja. Dengan merangkum temuan dari lima artikel ilmiah, penelitian ini diharapkan bisa memberi gambaran utuh tentang akar persoalan.

Metode

Penelitian ini menggunakan literature review dengan kriteria inklusi yang ketat. Ratna menelusuri ribuan artikel di Google Scholar, lalu menyaringnya menjadi lima jurnal relevan yang terbit antara 2009–2019. Data dianalisis menggunakan kerangka PICOS, yang menyoroti populasi, intervensi, outcome, serta desain penelitian. Hasil tiap artikel kemudian dipaparkan dan dibandingkan untuk menemukan pola umum.

Hasil Penelitian

Dari lima artikel yang direview, mayoritas menyebutkan bahwa insiden keselamatan pasien (IKP positif) masih lebih tinggi dibanding IKP negatif. Dengan kata lain, kesalahan atau potensi kesalahan dalam layanan kesehatan masih sering terjadi.

Beberapa temuan penting:

  • Usia perawat berperan signifikan. Perawat muda di bawah 30 tahun lebih rentan melakukan kesalahan karena kurang pengalaman.

  • Komunikasi yang tidak efektif menjadi penyebab dominan. Instruksi yang disampaikan secara lisan atau lewat telepon kerap menimbulkan salah tafsir.

  • Kerjasama tim yang lemah memperbesar risiko insiden, terutama di unit rawat inap dengan beban kerja tinggi.

  • Implementasi SOP (Standar Operasional Prosedur) yang kurang optimal sering membuat tindakan tidak sesuai standar.

  • Interupsi atau gangguan kerja – seperti kebisingan, kelelahan, atau tekanan waktu – meningkatkan peluang terjadinya insiden.

Sebaliknya, pengetahuan perawat tidak selalu berhubungan langsung dengan kejadian insiden. Artinya, meskipun perawat memiliki pemahaman teoretis yang baik, tanpa dukungan lingkungan kerja yang kondusif, risiko insiden tetap tinggi.

Pembahasan

Penelitian ini menegaskan bahwa keselamatan pasien adalah tanggung jawab kolektif, bukan sekadar individu. Sistem rumah sakit, budaya organisasi, hingga kepemimpinan manajerial turut berkontribusi.

Ratna menyoroti pentingnya sistem pelaporan insiden yang transparan. Banyak kasus tidak dilaporkan karena perawat takut disalahkan. Padahal, laporan insiden adalah langkah awal untuk belajar dari kesalahan dan mencegah terulang kembali. Selain itu, komunikasi efektif antar tim medis perlu diperkuat, misalnya melalui prosedur read back setiap menerima instruksi lisan.

Kesimpulan

Skripsi Ratna Dwi Rahmawati menyimpulkan bahwa insiden keselamatan pasien masih menjadi masalah serius di rumah sakit Indonesia. Faktor usia, komunikasi, kerjasama tim, implementasi SOP, dan interupsi kerja terbukti berperan besar. Sementara itu, pengetahuan perawat tidak selalu menjamin berkurangnya insiden.

Implikasinya jelas: rumah sakit perlu menanamkan budaya keselamatan pasien yang kuat, membangun sistem komunikasi efektif, serta memperkuat kerjasama tim. Dengan begitu, diharapkan angka insiden bisa ditekan, kualitas layanan meningkat, dan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit kembali pulih. (ed-AIS)

Sumber: repository UNIMMA