Magelang 1 September 2025 – Dalam dunia pendidikan, kualitas guru kerap disebut sebagai faktor penentu maju atau mundurnya mutu pembelajaran. Namun, bagaimana cara menjaga agar guru tetap memiliki kinerja optimal? Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh Laily Mardiyati, peneliti dari Universitas Muhammadiyah Magelang, lewat tesisnya berjudul “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi Kerja, dan Organizational Citizenship Behavior (OCB) terhadap Kinerja Guru SMA/SMK Muhammadiyah Se-Kabupaten Wonosobo”.
Penelitian yang dilakukan pada tahun 2022 ini bertolak dari kenyataan bahwa guru tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga mendidik, membimbing, hingga membentuk karakter peserta didik. Sayangnya, dalam praktik sehari-hari masih ditemukan sejumlah kendala: mulai dari rendahnya disiplin, keterlambatan dalam menyiapkan perangkat pembelajaran, hingga kurangnya semangat serta loyalitas.
Menurut Laily, peran kepala sekolah menjadi faktor penting. Kepala sekolah idealnya tidak sekadar berfungsi sebagai administrator, tetapi juga sebagai pendidik, manajer, motivator, sekaligus inovator. Ia memegang kendali dalam mengarahkan, memberi teladan, dan menciptakan suasana kerja yang kondusif bagi para guru. Penelitian ini pun berusaha membuktikan sejauh mana kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh terhadap kinerja bawahannya.
Selain itu, Laily menyoroti aspek motivasi kerja. Guru dengan motivasi tinggi diyakini lebih siap melaksanakan tugas dengan baik, lebih disiplin, serta lebih bersemangat dalam mendidik siswa. Motivasi ini bisa bersumber dari dalam diri, seperti rasa tanggung jawab dan keinginan berprestasi, maupun dari luar, seperti apresiasi, insentif, atau lingkungan kerja yang mendukung.
Tidak kalah menarik, penelitian ini juga mengkaji Organizational Citizenship Behavior (OCB). Istilah OCB mengacu pada perilaku sukarela di luar kewajiban formal yang justru membuat organisasi berjalan lebih efektif. Dalam konteks sekolah, OCB dapat berupa kesediaan guru membantu rekan kerja, loyalitas pada lembaga, hingga kepedulian pada kemajuan siswa tanpa menunggu instruksi.
Dengan melibatkan 60 responden dari total 134 guru SMA/SMK Muhammadiyah di Wonosobo, Laily menggunakan metode kuantitatif berbasis kuesioner. Analisis dilakukan dengan bantuan perangkat lunak statistik SPSS versi 26, melalui uji asumsi klasik dan regresi berganda.
Hasilnya cukup mencengangkan. Kepemimpinan kepala sekolah memberikan kontribusi efektif sebesar 35,73 persen terhadap kinerja guru. Artinya, gaya kepemimpinan yang inspiratif dan membimbing terbukti mampu mendorong peningkatan kualitas kerja.
Sementara itu, motivasi kerja menyumbang 25,97 persen, menegaskan pentingnya faktor psikologis dan dorongan personal dalam memengaruhi profesionalisme guru. Adapun OCB menyumbang 29,80 persen, menunjukkan bahwa perilaku sukarela dan kepedulian sosial di lingkungan sekolah sama pentingnya dengan motivasi dan kepemimpinan.
Secara keseluruhan, ketiga variabel tersebut memberikan pengaruh sebesar 91,5 persen terhadap kinerja guru, sedangkan sisanya 8,5 persen dipengaruhi faktor lain di luar penelitian. Angka ini membuktikan bahwa kepemimpinan, motivasi, dan OCB merupakan pilar utama yang menopang keberhasilan guru dalam melaksanakan tugasnya.
Bagi Laily Mardiyati, temuan ini membawa implikasi luas. Kepala sekolah diharapkan lebih peka dalam memberikan teladan dan motivasi. Mereka perlu mengedepankan komunikasi yang hangat, visi yang jelas, serta pengawasan yang mendorong bukan menekan. Di sisi lain, sekolah juga perlu menciptakan iklim yang menumbuhkan motivasi intrinsik maupun ekstrinsik guru, misalnya melalui penghargaan, kesempatan pengembangan diri, maupun suasana kerja yang harmonis.
Adapun terkait OCB, penelitian ini menyarankan agar sekolah membangun budaya kerja sama dan kepedulian. Guru yang saling mendukung dan loyal pada lembaga akan melahirkan kinerja kolektif yang jauh lebih baik.
Singkatnya, tesis ini menegaskan bahwa kinerja guru tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinan kepala sekolah, semangat kerja individu, serta perilaku sosial di lingkungan sekolah. Pendidikan, menurut Laily, adalah kerja kolektif yang membutuhkan pemimpin visioner, guru bermotivasi tinggi, dan budaya organisasi yang sehat.
Temuan ini diharapkan menjadi bahan refleksi bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah di Wonosobo, sekaligus inspirasi bagi lembaga pendidikan lain untuk menata strategi peningkatan kualitas guru. Sebab pada akhirnya, kualitas pendidikan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas para pendidiknya. (ed :noviyanti)
sumber : repository UNIMMA

