Magelang, 01 September 2025 – Pandemi COVID-19 meninggalkan catatan panjang tentang bagaimana masyarakat merespons program vaksinasi. Meski pemerintah gencar mendorong vaksin sebagai senjata utama melawan virus, keraguan publik tetap mengemuka. Fenomena ini menarik perhatian Arina Nur Rahmani, mahasiswi Psikologi Universitas Muhammadiyah Magelang, yang kemudian meneliti hubungan antara kepercayaan pada vaksin COVID-19 dan intensi vaksinasi di kalangan mahasiswa.
Latar Belakang
Sejak virus corona diumumkan pertama kali pada Maret 2020, Indonesia menghadapi lonjakan kasus dan korban jiwa. Vaksinasi pun digulirkan sebagai solusi jangka panjang. Namun, tak semua lapisan masyarakat menyambut positif. Sebagian menaruh curiga pada efektivitas maupun keamanan vaksin.
Di sisi lain, dunia pendidikan juga terimbas. Pemerintah mengisyaratkan bahwa kampus hanya bisa dibuka penuh bila dosen dan mahasiswa sudah divaksin. Kondisi inilah yang membuat penelitian Arina relevan: seberapa besar kepercayaan memengaruhi niat mahasiswa untuk divaksin?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mengukur pengaruh kepercayaan pada vaksin COVID-19 terhadap intensi vaksinasi mahasiswa Magelang. Secara lebih luas, hasil riset ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam merancang strategi komunikasi publik yang lebih efektif, serta memberi pemahaman baru dalam bidang psikologi kesehatan.
Metode Penelitian
Arina menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei daring. Instrumen berupa kuesioner disebar melalui Google Form kepada mahasiswa berusia minimal 18 tahun. Teknik sampling yang digunakan adalah non probability sampling dengan metode convenience.
Sebanyak 121 mahasiswa berpartisipasi dalam penelitian ini. Mereka diminta mengisi dua skala:
-
Skala Kepercayaan pada Vaksin COVID-19 berisi 12 item.
-
Skala Intensi Vaksinasi berisi 7 item.
Reliabilitas instrumen diuji dan dinyatakan sangat baik dengan koefisien Cronbach’s Alpha di atas 0,9. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 20 melalui uji regresi linear sederhana.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan temuan penting:
-
Mayoritas responden berada pada kategori sedang dalam hal kepercayaan maupun intensi vaksinasi.
-
Sebesar 39,3% mahasiswa bersedia menerima vaksin, 22,6% tidak keberatan, 14% menolak, 10,3% sangat ingin divaksin, dan 2,8% menolak keras.
-
Uji regresi menghasilkan nilai R = 0,730 dan R² = 0,533. Artinya, kepercayaan pada vaksin menjelaskan 53,3% variasi dalam intensi vaksinasi.
-
Koefisien regresi sebesar 0,525 dengan signifikansi 0,000 (<0,05) menegaskan bahwa pengaruh tersebut positif dan signifikan.
Dengan kata lain, semakin tinggi kepercayaan mahasiswa pada vaksin, semakin tinggi pula niat mereka untuk divaksinasi.
Pembahasan
Penelitian ini memperlihatkan bahwa keraguan terhadap vaksin masih nyata. Meski banyak mahasiswa sudah menerima vaksin dosis 1 dan 2, sebagian tetap enggan atau menunda. Hal ini terkait minimnya informasi yang akurat, pengaruh sosial, hingga faktor psikologis seperti rasa takut efek samping.
Arina juga membandingkan hasilnya dengan penelitian terdahulu di negara lain. Menurut studi Huynh dkk. (2021), lebih dari 76% responden tenaga kesehatan menyatakan niat kuat untuk divaksin. Sementara itu, penelitian Paul dkk. (2021) di Inggris menemukan 14% responden menolak vaksin. Angka-angka ini menunjukkan bahwa intensi vaksinasi mahasiswa Magelang masih berada di level menengah jika dibandingkan dengan konteks global.
Kesimpulan dan Implikasi
Penelitian Arina menegaskan satu hal: kepercayaan adalah faktor kunci. Tanpa rasa percaya pada keamanan dan efektivitas vaksin, niat untuk divaksinasi akan melemah. Dari sisi kebijakan, hasil ini penting bagi pemerintah dan kampus. Strategi komunikasi publik sebaiknya tidak hanya menekankan kewajiban, tetapi juga membangun kepercayaan melalui edukasi, transparansi, dan penyebaran informasi yang benar.
Bagi mahasiswa, penelitian ini menjadi pengingat bahwa keputusan untuk divaksin tidak semata urusan pribadi, melainkan bagian dari tanggung jawab kolektif membangun kekebalan kelompok. Arina menutup penelitiannya dengan harapan agar generasi muda mampu menjadi agen perubahan dalam mengikis keraguan, serta berani mengambil keputusan berdasarkan informasi yang valid. (ed-AIS)

