Magelang, 01 September 2025 – Pergantian karyawan atau turnover kerap menjadi tantangan besar bagi dunia industri. Tingginya angka karyawan yang keluar-masuk bukan hanya menimbulkan biaya rekrutmen baru, tetapi juga berisiko mengganggu stabilitas perusahaan. Fenomena inilah yang diamati Jezhan Muhammad Ridho, mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Magelang, dalam penelitiannya di PT. Surya Mandiri Jaya Sakti 1 Secang, sebuah perusahaan manufaktur kayu berskala ekspor.
Latar Belakang
Dalam lima tahun terakhir, data internal perusahaan menunjukkan fluktuasi jumlah karyawan yang cukup tajam. Pada 2018, jumlah pekerja melonjak 19,8 persen menjadi 1.125 orang. Namun, setahun kemudian turun drastis hingga 22,84 persen. Pandemi COVID-19 semakin memperburuk kondisi, memaksa perusahaan mengurangi tenaga kerja pada 2021 hingga tersisa 866 orang. Situasi ini menjadi dasar penelitian Jezhan untuk menelaah apa saja faktor yang memengaruhi niat karyawan bertahan atau justru meninggalkan perusahaan.
Tujuan Penelitian
Skripsi ini bertujuan menganalisis pengaruh kepuasan kerja, stres kerja, dan kompensasi terhadap turnover intention karyawan. Pertanyaan utama yang hendak dijawab adalah apakah ketiga faktor tersebut berpengaruh secara simultan maupun parsial terhadap keinginan karyawan untuk keluar dari perusahaan.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Jezhan mengambil 110 karyawan sebagai sampel dengan metode quota sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, lalu dianalisis melalui uji validitas, reliabilitas, regresi linier berganda, uji F, dan uji t menggunakan program SPSS.
Variabel yang diuji meliputi kepuasan kerja (X1), stres kerja (X2), kompensasi (X3), serta turnover intention (Y) sebagai variabel dependen.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian mengungkap fakta menarik:
-
Kepuasan kerja berpengaruh negatif terhadap turnover intention. Artinya, semakin tinggi kepuasan kerja, semakin kecil keinginan karyawan untuk pindah.
-
Stres kerja berpengaruh positif dan signifikan. Semakin tinggi tingkat stres, semakin besar pula keinginan karyawan untuk meninggalkan perusahaan.
-
Kompensasi berpengaruh negatif. Pemberian kompensasi yang adil dan layak terbukti mampu menekan niat karyawan untuk resign.
Secara simultan, ketiga variabel ini menjelaskan 37,1 persen variasi turnover intention. Sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian, seperti gaya kepemimpinan, budaya organisasi, maupun kondisi eksternal.
Pembahasan
Temuan ini menegaskan bahwa kepuasan kerja dan kompensasi menjadi “penahan” penting agar karyawan tetap bertahan. Ketika pekerja merasa dihargai, diberi kesempatan berkembang, dan menerima imbalan yang sesuai, loyalitas mereka cenderung meningkat.
Sebaliknya, stres kerja muncul sebagai faktor pendorong turnover. Tuntutan target, tekanan waktu, serta beban kerja yang tinggi sering kali membuat karyawan merasa tertekan. Jika kondisi ini tidak diantisipasi, perusahaan bisa kehilangan tenaga kerja terampil yang sesungguhnya masih potensial.
Dalam konteks PT. Surya Mandiri Jaya Sakti 1 Secang, dinamika fluktuasi jumlah karyawan membuktikan bahwa perusahaan perlu mengatur strategi sumber daya manusia yang lebih seimbang: menjaga kepuasan dan kompensasi, sekaligus meminimalisasi faktor stres.
Kesimpulan
Penelitian Jezhan Muhammad Ridho menyimpulkan bahwa kepuasan kerja, stres kerja, dan kompensasi berpengaruh signifikan terhadap turnover intention karyawan di PT. Surya Mandiri Jaya Sakti 1 Secang. Kepuasan dan kompensasi menekan niat pindah, sementara stres kerja justru memperkuatnya.
Temuan ini menjadi peringatan penting bagi perusahaan, khususnya di sektor manufaktur. Mengelola sumber daya manusia tidak cukup hanya dengan menggaji, tetapi juga dengan menciptakan lingkungan kerja yang sehat, adil, dan mendukung kesejahteraan karyawan. Dengan begitu, tingkat turnover bisa ditekan, dan perusahaan dapat lebih fokus meningkatkan produktivitas serta menjaga daya saing di pasar global. (ed-AIS)
Sumber: repository UNIMMA

