Maulana Ulinuha Buktikan Papan Aksara Tingkatkan Hasil Belajar Bahasa Jawa
2 September 2025

adel

Magelang, 2 September 2025 – Bahasa Jawa merupakan salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan melalui pendidikan di sekolah. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran bahasa daerah ini sering kali menemui kendala. Hal inilah yang menjadi perhatian Maulana Ulinuha, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang. Dalam penelitiannya yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Jawa Menggunakan Alat Peraga Papan Aksara di Kelas V MI Muhammadiyah Paremono”, Maulana menguji bagaimana sebuah media sederhana dapat mengubah kualitas pembelajaran.

Tema Penelitian

Tema utama penelitian ini adalah pemanfaatan alat peraga papan aksara Jawa untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Bahasa Jawa. Maulana melihat, pembelajaran yang masih didominasi metode ceramah membuat siswa cepat bosan, sulit memahami materi, dan berdampak pada rendahnya capaian belajar. Dengan papan aksara, ia berharap siswa bisa belajar lebih aktif, interaktif, dan menyenangkan.

Tujuan Penelitian

Ada dua tujuan penting yang ditekankan Maulana dalam risetnya. Pertama, untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran Bahasa Jawa menggunakan media papan aksara diterapkan di kelas. Kedua, untuk membuktikan apakah penggunaan media tersebut benar-benar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan ini sekaligus menjadi jawaban atas masalah klasik pembelajaran muatan lokal yang kerap dianggap kurang menarik oleh siswa.

Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan dengan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas V MI Muhammadiyah Paremono, Mungkid, Kabupaten Magelang, sebanyak 22 anak. Hasil pra-siklus menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan: rata-rata nilai siswa hanya 66,6, dengan tingkat ketuntasan belajar 13,6% atau hanya 3 siswa dari 22 yang berhasil mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Setelah dilakukan tindakan dengan menggunakan papan aksara pada siklus I, hasilnya langsung terlihat. Rata-rata nilai meningkat menjadi 79,00, dengan ketuntasan mencapai 77,2%. Artinya, 17 dari 22 siswa berhasil memenuhi KKM. Suasana kelas juga berubah lebih hidup, siswa tampak lebih aktif mencoba menempelkan kartu aksara di papan, serta lebih percaya diri menuliskan aksara Jawa di buku catatan mereka.

Perbaikan berlanjut pada siklus II. Dengan metode yang sama namun lebih dimatangkan, hasil belajar siswa melonjak lebih tinggi. Nilai rata-rata mencapai 88,00, dan tingkat ketuntasan belajar menjadi 100%. Semua siswa dinyatakan berhasil memenuhi standar, sebuah capaian yang membuktikan efektivitas media papan aksara dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Selain data kuantitatif, Maulana juga mencatat perubahan sikap siswa. Anak-anak yang awalnya enggan bertanya kini lebih aktif berdiskusi. Mereka juga tampak lebih antusias mengikuti pelajaran karena pembelajaran tidak lagi monoton. Guru pun merasa terbantu, sebab alat peraga ini membuat materi yang sulit seperti aksara Jawa lebih mudah dipahami oleh siswa.

Kesimpulan

Dari hasil penelitian, Maulana Ulinuha menyimpulkan bahwa penggunaan alat peraga papan aksara efektif meningkatkan hasil belajar Bahasa Jawa siswa kelas V MI Muhammadiyah Paremono. Media ini tidak hanya meningkatkan capaian nilai akademik, tetapi juga memengaruhi motivasi, perhatian, dan keaktifan siswa di kelas.

Maulana berharap penelitian ini bisa menjadi inspirasi bagi para guru untuk berinovasi dalam mengajar, khususnya dalam mata pelajaran muatan lokal seperti Bahasa Jawa. Menurutnya, kreativitas dalam membuat media sederhana sekalipun dapat memberikan dampak besar pada proses pembelajaran.

“Guru tidak harus selalu mengandalkan metode ceramah. Dengan sedikit kreativitas, media sederhana seperti papan aksara bisa membuat siswa lebih bersemangat dan hasil belajar pun meningkat,” tegasnya dalam laporan penelitian.

Penelitian ini menjadi bukti bahwa pelestarian bahasa daerah tidak hanya bisa dilakukan melalui kebijakan, tetapi juga lewat inovasi kecil di ruang kelas. Dengan papan aksara, Maulana berhasil menunjukkan bahwa belajar aksara Jawa bisa dibuat menyenangkan, sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa di kalangan generasi muda. (ed: Adella)

sumber: repository UNIMMA