Merdeka Belajar di Era Digital: Potret Implementasi di SMP Muhammadiyah Bandongan
1 September 2025

novi

Magelang 1 September 2025 – Merdeka Belajar sebagai gagasan besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak hanya berhenti pada tataran wacana, melainkan mulai diuji di ruang-ruang kelas, termasuk pada pembelajaran daring yang marak sejak pandemi. Hal inilah yang menjadi perhatian serius Muhamad Zaenal Ma’ruf, peneliti muda yang menyoroti bagaimana konsep tersebut dijalankan di SMP Muhammadiyah Bandongan, Kabupaten Magelang.

Dalam penelitiannya yang bertajuk Implementasi Konsep Merdeka Belajar dalam Pembelajaran Daring SMP Muhammadiyah Bandongan Kabupaten Magelang Tahun Ajaran 2020/2021, Zaenal berangkat dari keresahan bahwa pandemi telah memaksa sekolah beradaptasi dengan cepat terhadap sistem daring. Pertanyaan besar yang ia ajukan sederhana: apakah semangat Merdeka Belajar benar-benar hadir di balik layar gawai para siswa?

Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui secara menyeluruh bagaimana pelaksanaan Merdeka Belajar dalam konteks pembelajaran daring. Lebih jauh, peneliti ingin mengungkap faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat proses tersebut. Dengan begitu, hasil penelitian diharapkan bisa memberi gambaran nyata sekaligus masukan bagi sekolah maupun pemangku kebijakan.

Metode dan Pendekatan

Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Zaenal menggali data dari berbagai pihak yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran: kepala sekolah, guru, siswa, hingga orang tua. Wawancara mendalam, observasi, serta dokumentasi dijadikan sumber utama, sehingga gambaran yang muncul tidak hanya berbasis teori, tetapi juga kenyataan di lapangan.

Hasil Penelitian

Dari penelitian ini terungkap bahwa implementasi Merdeka Belajar di SMP Muhammadiyah Bandongan dalam situasi daring memang sudah berjalan, meski dengan tantangan yang tidak ringan. Sekolah berupaya memberi ruang kebebasan kepada guru dalam memilih metode pengajaran, serta kepada siswa untuk mengembangkan kreativitas mereka. Guru, misalnya, tidak lagi kaku pada buku teks, melainkan diberi keleluasaan memanfaatkan aplikasi digital, video, maupun diskusi interaktif secara online.

Namun demikian, Zaenal mencatat bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari faktor pendukung yang cukup signifikan. Dukungan orang tua menjadi salah satu yang paling menonjol. Peran mereka bukan hanya menyediakan fasilitas gawai dan kuota internet, tetapi juga mendampingi anak ketika belajar di rumah. Selain itu, semangat guru untuk terus berinovasi di tengah keterbatasan turut menjadi motor penggerak.

Di sisi lain, sejumlah hambatan juga tidak bisa diabaikan. Kendala jaringan internet yang tidak merata menjadi masalah klasik. Banyak siswa mengalami kesulitan mengakses materi ketika berada di wilayah dengan sinyal lemah. Ditambah lagi, beban ekonomi sebagian orang tua membuat penyediaan kuota internet menjadi beban tersendiri. Tidak jarang siswa harus berbagi perangkat dengan anggota keluarga lain.

Analisis dan Implikasi

Temuan ini memperlihatkan bahwa konsep Merdeka Belajar memang bisa diimplementasikan dalam pembelajaran daring, namun perlu dukungan yang komprehensif. Sekolah harus kreatif dalam menyiasati keterbatasan, sementara pemerintah dan masyarakat dituntut hadir dengan solusi nyata, misalnya penyediaan akses internet yang lebih merata dan program bantuan kuota yang berkelanjutan.

Zaenal juga menekankan pentingnya komunikasi yang intens antara sekolah, orang tua, dan siswa. Tanpa sinergi tersebut, semangat Merdeka Belajar hanya akan berhenti sebagai jargon. Lebih jauh, penelitian ini membuka mata bahwa pandemi sesungguhnya bukan sekadar krisis, melainkan momentum untuk mempercepat transformasi pendidikan ke arah yang lebih adaptif dan berpusat pada siswa.

Penutup

Penelitian Muhamad Zaenal Ma’ruf ini menegaskan bahwa Merdeka Belajar bukan sekadar konsep abstrak, tetapi nyata terasa dalam praktik sehari-hari di SMP Muhammadiyah Bandongan. Ada harapan sekaligus tantangan yang menanti. Harapan bahwa siswa bisa tumbuh lebih mandiri dan kreatif, serta tantangan berupa kesenjangan fasilitas yang harus segera diatasi.

Pada akhirnya, karya ini menjadi cermin bahwa pendidikan kita tengah bergerak ke arah baru: pendidikan yang lebih fleksibel, kolaboratif, dan berbasis pada kebutuhan nyata siswa. Sebuah langkah kecil di Magelang, tetapi memiliki gema besar bagi masa depan pendidikan Indonesia. (ed : noviyanti)

sumber : repository UNIMMA