Magelang, Juni 2026 – Di tengah tantangan pendidikan modern yang menuntut pembelajaran lebih aktif dan berpusat pada peserta didik, pendekatan pembelajaran tradisional dari dunia pesantren ternyata masih menyimpan relevansi yang kuat. Hal tersebut menjadi temuan menarik dalam penelitian yang dilakukan oleh Rina Nur Rahmawati, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang, melalui skripsinya yang berjudul “Metode Sorogan dalam Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadis di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Magelang.”
Penelitian ini berangkat dari kondisi pembelajaran Al-Qur’an Hadis di MIN 1 Magelang yang sebelumnya masih menghadapi sejumlah kendala. Sebagian siswa terlihat kurang antusias saat mengikuti pembelajaran, cenderung pasif, enggan bertanya, serta belum memiliki pemahaman yang optimal terhadap materi yang diajarkan. Pembelajaran yang banyak menggunakan metode ceramah dan pengulangan secara klasikal dinilai belum mampu memberikan ruang bagi guru untuk mengetahui kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an setiap siswa secara mendalam.
Melihat kondisi tersebut, Rina Nur Rahmawati mencoba mengkaji penerapan metode sorogan, sebuah metode pembelajaran khas pesantren yang mengedepankan interaksi langsung antara guru dan murid. Dalam metode ini, siswa secara bergiliran menyampaikan bacaan atau hafalannya di hadapan guru untuk memperoleh koreksi, bimbingan, dan evaluasi secara individual.
Melalui penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif, Rina melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan melibatkan kepala madrasah, guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadis, serta siswa kelas IIIA MIN 1 Magelang yang berjumlah 28 orang. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan metode sorogan, faktor pendukung dan penghambatnya, serta bagaimana pengaruh metode tersebut terhadap hasil belajar siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan metode sorogan memberikan pengalaman belajar yang lebih personal bagi peserta didik. Guru dapat mengamati secara langsung kemampuan setiap siswa dalam membaca, menghafal, dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Siswa tidak hanya menerima materi secara bersama-sama, tetapi juga mendapatkan perhatian khusus sesuai tingkat kemampuan masing-masing.
Dalam praktiknya, proses pembelajaran dimulai dengan guru memberikan contoh bacaan dan penjelasan terhadap materi Al-Qur’an Hadis. Selanjutnya, siswa secara bergantian maju untuk membaca atau menyetorkan hafalan yang telah dipelajari. Melalui proses tatap muka secara langsung tersebut, guru dapat segera membenarkan kesalahan bacaan, memberikan arahan, serta memastikan siswa benar-benar memahami materi sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.
Penerapan metode sorogan juga menghadirkan hubungan belajar yang lebih dekat antara guru dan siswa. Interaksi yang intens memungkinkan guru mengenali karakter, kemampuan, serta kesulitan belajar yang dialami oleh masing-masing peserta didik. Kondisi tersebut menjadi salah satu keunggulan metode sorogan dibandingkan pembelajaran yang hanya berlangsung secara klasikal.
Dari sisi hasil belajar, penelitian ini menemukan adanya perubahan setelah metode sorogan diterapkan. Sebagian siswa mengalami peningkatan nilai setelah mengikuti pembelajaran dengan metode tersebut, meskipun terdapat pula beberapa siswa yang mengalami penurunan maupun belum menunjukkan perubahan signifikan. Namun secara umum, metode sorogan memberikan peluang yang lebih besar bagi siswa untuk meningkatkan pemahaman terhadap hafalan surat, pelafalan ayat, serta penguasaan materi Al-Qur’an Hadis.
Pelaksanaan sorogan di MIN 1 Magelang juga tidak berhenti hanya pada jam pelajaran di kelas. Siswa diberikan kesempatan untuk melanjutkan setoran hafalan setelah pelaksanaan salat Zuhur maupun pada waktu istirahat. Kebiasaan ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kedisiplinan dan memperkuat kedekatan siswa dengan Al-Qur’an.
Meski demikian, penelitian ini juga mencatat adanya tantangan dalam penerapan metode sorogan. Model pembelajaran individual membutuhkan waktu yang lebih panjang, kesabaran guru yang tinggi, serta kedisiplinan siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan secara maksimal. Jumlah siswa yang banyak juga menjadi tantangan tersendiri karena guru harus memberikan perhatian kepada setiap peserta didik secara bergiliran.
Melalui penelitian ini, Rina Nur Rahmawati menyimpulkan bahwa metode sorogan dapat menjadi alternatif pembelajaran Al-Qur’an Hadis yang efektif untuk mengembangkan kemampuan siswa di tingkat Madrasah Ibtidaiyah. Perpaduan antara tradisi pendidikan pesantren dan kebutuhan pembelajaran modern menunjukkan bahwa pendekatan lama tidak selalu tertinggal oleh zaman. Justru dengan sentuhan yang tepat, metode sorogan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat, bermakna, dan berorientasi pada kemampuan setiap individu siswa. (ed. Sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

