Magelang, Juli–Fenomena pernikahan dini kembali menjadi sorotan melalui penelitian yang dilakukan oleh Dani, mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi dan Humaniora, Universitas Muhammadiyah Magelang. Dalam skripsinya yang berjudul “Faktor-Faktor di Balik Keputusan Menikah Dini pada Remaja di Desa Banyuroto, Kabupaten Magelang”, Dani mengupas secara mendalam alasan di balik keputusan remaja untuk menikah di usia muda.
Penelitian ini berfokus pada tema pengambilan keputusan menikah dini pada remaja, dengan tujuan utama untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan tersebut di lingkungan masyarakat pedesaan, khususnya di Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini melibatkan empat narasumber, terdiri dari dua remaja yang telah menikah dini dan dua remaja yang memilih menunda pernikahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan menikah dini tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Salah satu temuan utama adalah faktor pengalaman hidup dan pola pikir remaja yang sangat menentukan dalam proses pengambilan keputusan.
Dani mengungkap bahwa remaja yang memilih menikah dini umumnya didorong oleh keinginan pribadi serta kondisi tertentu seperti kehamilan di luar nikah. Di sisi lain, remaja yang menunda pernikahan memiliki pertimbangan yang lebih rasional, seperti keinginan mengejar cita-cita, memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, serta kekhawatiran menghadapi konflik rumah tangga.
Lebih jauh, penelitian ini juga menemukan bahwa faktor eksternal seperti tekanan sosial, rendahnya tingkat pendidikan, serta kondisi ekonomi keluarga turut memperkuat keputusan menikah dini. Dalam konteks masyarakat Banyuroto, norma sosial yang menganggap keterlambatan menikah sebagai hal negatif menjadi tekanan tersendiri bagi remaja. Selain itu, keterbatasan ekonomi sering kali membuat orang tua memilih menikahkan anaknya lebih cepat untuk mengurangi beban keluarga.
Fenomena ini diperparah dengan adanya praktik hubungan pranikah yang berujung pada kehamilan, yang kemudian “diselesaikan” melalui pernikahan dini. Di sisi lain, rendahnya literasi dan pendidikan masyarakat juga membatasi pemahaman remaja terhadap dampak jangka panjang dari pernikahan di usia muda.
Penelitian Dani menegaskan bahwa pernikahan dini bukan sekadar pilihan individu, melainkan hasil dari kombinasi kompleks antara faktor psikologis, sosial, dan ekonomi. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan masyarakat untuk merancang strategi pencegahan yang lebih efektif, khususnya melalui peningkatan pendidikan, literasi, serta penyuluhan yang berkelanjutan.
Dengan pendekatan yang mendalam dan berbasis realitas lapangan, penelitian ini memberikan gambaran nyata bahwa upaya menekan angka pernikahan dini tidak cukup hanya dengan regulasi, tetapi juga membutuhkan perubahan pola pikir dan kondisi sosial masyarakat secara menyeluruh. (ed. adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

