Magelang,Juli–Fenomena perundungan atau bullying di lingkungan sekolah dasar kembali menjadi sorotan. Penelitian yang dilakukan oleh Haris Ardhana, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Magelang, mengungkap adanya keterkaitan signifikan antara kelompok teman sebaya dengan perilaku bullying pada anak.
Penelitian berjudul “Hubungan Kelompok Teman Sebaya terhadap Perilaku Bullying pada Anak di SD Negeri Selopampang” ini berangkat dari maraknya kasus perundungan yang terjadi di lingkungan pendidikan dasar. Berdasarkan temuan awal di lapangan, praktik bullying tidak hanya terjadi secara verbal seperti ejekan, tetapi juga dalam bentuk fisik dan pengucilan sosial antar siswa.
Haris Ardhana menegaskan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh interaksi dalam kelompok teman sebaya terhadap kecenderungan perilaku bullying pada anak sekolah dasar. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 49 siswa kelas tinggi (kelas 4, 5, dan 6) sebagai responden.
Dalam kajiannya, peneliti menyoroti beberapa aspek penting dalam kelompok teman sebaya, seperti dukungan emosional, penghargaan, instrumental, dan informasi. Sementara itu, perilaku bullying diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk utama, yakni verbal, fisik, serta psikologis atau mental.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kelompok teman sebaya dengan perilaku bullying. Hal ini dibuktikan melalui nilai signifikansi uji statistik sebesar 0,001 yang lebih kecil dari 0,05, sehingga hipotesis penelitian dinyatakan diterima.
Lebih lanjut, data menunjukkan bahwa mayoritas siswa berada pada kategori sedang, baik dalam hal peran kelompok teman sebaya maupun kecenderungan perilaku bullying. Sebanyak 71 persen siswa memiliki tingkat pengaruh teman sebaya dalam kategori sedang, sementara 67 persen siswa menunjukkan kecenderungan perilaku bullying pada tingkat yang sama.
Temuan ini menguatkan dugaan bahwa lingkungan pergaulan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku anak, termasuk dalam munculnya tindakan perundungan. Anak yang berada dalam kelompok dengan pengaruh negatif berpotensi lebih besar untuk terlibat dalam perilaku bullying, baik sebagai pelaku maupun korban.
Penelitian ini menjadi pengingat bagi pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk lebih memperhatikan dinamika pergaulan anak sejak dini. Upaya pencegahan bullying tidak hanya dapat dilakukan melalui pendekatan individu, tetapi juga dengan membangun lingkungan sosial yang sehat dan suportif di antara siswa.
Dengan meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya peran teman sebaya, diharapkan kasus bullying di sekolah dasar dapat ditekan, sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik. (ed. adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

