Magelang, Juni 2026 — Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang memengaruhi perilaku remaja, lembaga pendidikan pesantren masih menjadi salah satu benteng utama dalam pembinaan karakter generasi muda. Namun demikian, lingkungan pesantren tidak sepenuhnya steril dari berbagai bentuk kenakalan remaja. Fenomena inilah yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Iqbal Pangesturian, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang, dalam skripsinya berjudul “Peran Ustadz dalam Menangani Kenakalan Remaja pada Santri di Pondok Modern Assalaam Temanggung.”
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk kenakalan yang terjadi di lingkungan pesantren, mengkaji peran ustadz dalam menangani perilaku tersebut, serta mengungkap faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat proses pembinaan santri. Penelitian dilakukan di Pondok Modern Assalaam Temanggung, sebuah lembaga pendidikan Islam yang telah berdiri sejak tahun 1984 dan dikenal sebagai pesantren yang memadukan pendidikan agama dengan pembinaan karakter.
Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, Iqbal mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan melibatkan ustadz, pengurus pondok, serta para santri sebagai informan utama. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh gambaran mendalam mengenai dinamika pembinaan yang berlangsung di lingkungan pesantren.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenakalan santri di Pondok Modern Assalaam terbagi dalam tiga kategori. Pada tingkat ringan, pelanggaran yang sering ditemukan meliputi keterlambatan mengikuti kegiatan pondok, kurang disiplin, serta membawa barang-barang yang dilarang. Pada tingkat sedang, terdapat perilaku merokok, meninggalkan pondok tanpa izin, dan praktik ghasab atau menggunakan barang milik orang lain tanpa izin. Sementara itu, kenakalan kategori berat mencakup tindakan mencuri, tidak melaksanakan salat wajib, hingga berpacaran yang dianggap bertentangan dengan nilai dan aturan pesantren.
Menurut penelitian ini, munculnya berbagai bentuk kenakalan tersebut tidak lepas dari karakteristik masa remaja yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Pada tahap ini, remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, senang mencoba hal-hal baru, dan rentan terhadap pengaruh lingkungan maupun teknologi digital. Faktor inilah yang kerap memicu munculnya perilaku menyimpang meskipun mereka berada dalam lingkungan pendidikan berbasis agama.
Di tengah tantangan tersebut, peran ustadz menjadi sangat strategis. Penelitian menemukan bahwa para ustadz tidak hanya berfungsi sebagai pengajar ilmu agama, tetapi juga sebagai pembimbing, motivator, pengawas, konselor, sekaligus teladan bagi para santri. Upaya penanganan kenakalan dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari pembinaan akhlak, pemberian nasihat secara personal, keteladanan dalam kehidupan sehari-hari, pengawasan intensif terhadap aktivitas santri, hingga layanan bimbingan dan konseling.
Selain itu, pondok juga menerapkan sistem sanksi yang bersifat edukatif. Hukuman diberikan bukan untuk menghukum secara fisik atau menjatuhkan martabat santri, melainkan sebagai sarana pembelajaran agar mereka memahami konsekuensi dari setiap pelanggaran yang dilakukan. Pendekatan ini dinilai efektif karena tetap mengedepankan aspek pembinaan dan perbaikan moral.
Penelitian juga mengungkap sejumlah faktor yang mendukung keberhasilan pembinaan santri. Di antaranya adalah kerja sama yang solid antarustadz, keberadaan aturan pondok yang tegas, serta lingkungan pesantren yang relatif kondusif untuk pembentukan karakter. Dengan sistem pengawasan yang terstruktur, setiap perilaku santri dapat dipantau dan diarahkan secara lebih efektif.
Meski demikian, proses penanganan kenakalan tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Latar belakang santri yang beragam, pengaruh teknologi dan pergaulan sebelum masuk pesantren, serta rendahnya kesadaran sebagian santri terhadap pentingnya disiplin dan akhlak menjadi tantangan tersendiri bagi para ustadz. Kondisi tersebut menuntut kesabaran, konsistensi, dan kreativitas dalam menerapkan strategi pembinaan yang sesuai dengan karakter masing-masing santri.
Secara keseluruhan, penelitian Iqbal Pangesturian menegaskan bahwa keberhasilan pesantren dalam membentuk generasi yang berakhlakul karimah tidak hanya bergantung pada aturan dan kurikulum, tetapi juga pada kualitas pendampingan yang diberikan para ustadz. Dengan pendekatan yang humanis, konsisten, dan berorientasi pada pembinaan karakter, ustadz mampu menjadi garda terdepan dalam meminimalkan kenakalan remaja sekaligus membentuk pribadi santri yang lebih disiplin, bertanggung jawab, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
SEO Keywords: peran ustadz, kenakalan santri, Pondok Modern Assalaam Temanggung, pembinaan akhlak santri, pendidikan pesantren, kenakalan remaja di pesantren, penelitian Iqbal Pangesturian, pendidikan karakter Islam. (ed. Sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

