Pergulatan Identitas Remaja yang Menikah Dini di Tengah Tekanan Sosial dan Realitas Baru
17 June 2026

mimin

Magelang, Juni 2026 — Fenomena pernikahan dini kembali menjadi sorotan melalui penelitian yang dilakukan oleh Disha Wanda Arshika, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Magelang. Dalam skripsinya yang berjudul “Dinamika Pembentukan Identitas Diri pada Remaja yang Menikah Dini”, Disha mengupas secara mendalam bagaimana remaja yang menikah sebelum usia matang berjuang menemukan kembali jati diri mereka di tengah perubahan hidup yang drastis.

Penelitian ini berangkat dari realitas sosial bahwa pernikahan dini—yang umumnya terjadi di bawah usia 19 tahun—masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Meski angkanya menunjukkan tren penurunan, praktik ini tetap menyisakan dampak kompleks, mulai dari aspek psikologis hingga sosial. Dalam konteks inilah, Disha memfokuskan penelitiannya pada satu aspek krusial: bagaimana identitas diri remaja terbentuk ketika mereka dipaksa memasuki peran dewasa lebih cepat dari semestinya.

Dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, Disha meneliti dua remaja yang menikah di usia 17–18 tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam untuk menggali pengalaman subjektif para subjek penelitian. Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan secara rinci proses pembentukan identitas diri pada remaja yang menikah dini, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembentukan identitas diri pada remaja yang menikah dini tidak berlangsung secara linier, melainkan penuh dinamika dan tekanan. Disha menemukan tiga aspek utama yang membentuk identitas diri mereka, yakni aspek adaptif, dinamis, dan timbal balik psikososial.

Pada aspek adaptif, remaja dituntut untuk cepat menyesuaikan diri dengan peran baru sebagai pasangan bahkan orang tua. Kemampuan beradaptasi ini menjadi kunci utama dalam menentukan bagaimana mereka menjalani kehidupan pasca-pernikahan. Sementara itu, aspek dinamis menunjukkan bahwa pengalaman hidup—termasuk kejadian seperti kehamilan di luar nikah—memberikan pengaruh besar terhadap perubahan cara pandang dan pembentukan identitas baru.

Adapun aspek timbal balik psikososial menyoroti pentingnya hubungan dengan lingkungan sekitar, terutama keluarga dan teman sebaya. Dukungan sosial terbukti menjadi faktor penentu dalam membantu remaja menghadapi tekanan, stigma sosial, hingga rasa kehilangan masa muda. Tanpa dukungan tersebut, remaja berisiko mengalami krisis identitas yang berkepanjangan.

Temuan menarik lainnya dari penelitian ini adalah adanya pengalaman emosional yang kuat pada subjek penelitian, seperti rasa sedih, kehilangan diri, hingga tekanan sosial akibat pernikahan yang terjadi karena married by accident. Namun, di balik kondisi tersebut, para remaja menunjukkan kemampuan untuk bangkit dan membangun identitas diri baru. Mereka perlahan menerima peran yang dijalani dan berusaha menemukan makna dalam kehidupan yang telah berubah.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa pernikahan dini kerap memutus proses alami pencarian jati diri pada masa remaja. Dalam teori perkembangan Erikson, fase remaja seharusnya menjadi periode eksplorasi identitas. Namun, ketika pernikahan datang lebih awal, proses tersebut terhenti dan digantikan dengan tuntutan tanggung jawab dewasa.

Meski demikian, Disha menekankan bahwa identitas diri tetap dapat terbentuk, meskipun melalui jalur yang lebih sulit. Dengan dukungan yang tepat, remaja yang menikah dini masih memiliki peluang untuk berkembang menjadi individu yang matang secara psikologis.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan gambaran nyata bahwa di balik angka statistik pernikahan dini, terdapat cerita-cerita personal tentang perjuangan identitas, tekanan sosial, dan upaya bertahan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan, pendampingan psikologis, serta edukasi masyarakat agar lebih memahami dampak pernikahan dini, khususnya terhadap perkembangan psikologis remaja.

Lebih dari sekadar kajian akademik, riset ini membuka ruang refleksi bahwa pernikahan bukan hanya soal kesiapan fisik, tetapi juga kesiapan identitas diri yang matang—sesuatu yang masih terus diperjuangkan oleh banyak remaja di Indonesia. (ed. Sulistya)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance