Magelang, Juni 2026 — Upaya pemanfaatan tanaman obat lokal kembali mendapat dukungan ilmiah. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Fatiarisa Fadhillah, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), menemukan bahwa rebusan bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) berpotensi membantu menurunkan kadar asam urat pada lansia yang mengalami hiperurisemia.
Penelitian yang berjudul “Pengaruh Pemberian Rebusan Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus Rosa Sinensis) pada Pasien Lansia dengan Hiperurisemia di Puskesmas Temanggung Tahun 2025” ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kasus hiperurisemia pada kelompok lanjut usia. Kondisi tersebut terjadi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat melebihi batas normal dan berisiko menimbulkan berbagai keluhan kesehatan, termasuk nyeri sendi yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Melalui penelitian ini, Fatiarisa berupaya mengkaji efektivitas pemanfaatan bunga kembang sepatu sebagai terapi pendamping nonfarmakologis yang mudah diperoleh masyarakat. Tujuan utama penelitian adalah mengetahui apakah pemberian rebusan bunga kembang sepatu dapat memberikan pengaruh nyata terhadap penurunan kadar asam urat pada lansia penderita hiperurisemia di wilayah kerja Puskesmas Temanggung.
Penelitian dilaksanakan pada April hingga Mei 2025 menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest with control group. Responden penelitian merupakan lansia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan peneliti. Intervensi dilakukan dengan memberikan rebusan bunga kembang sepatu yang dibuat dari 20 gram bunga segar yang direbus dalam 200 mililiter air hingga tersisa sekitar 100 mililiter. Ramuan tersebut diberikan secara rutin selama masa observasi tujuh hari sebelum dilakukan pengukuran ulang kadar asam urat.
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup menarik. Pada kelompok intervensi yang mendapatkan rebusan bunga kembang sepatu, rata-rata kadar asam urat mengalami penurunan dari 280,50 menjadi 250,10. Sebaliknya, pada kelompok kontrol yang hanya mendapatkan terapi standar, kadar asam urat justru mengalami sedikit peningkatan dari 269,40 menjadi 272,75.
Analisis statistik menggunakan paired t-test memperkuat temuan tersebut. Nilai uji menunjukkan t = 6,85 dengan p-value = 0,000, yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara kadar asam urat sebelum dan sesudah pemberian rebusan bunga kembang sepatu. Dengan kata lain, intervensi yang diberikan terbukti memberikan efek signifikan terhadap penurunan kadar asam urat pada lansia penderita hiperurisemia.
Selain mengukur efektivitas intervensi, penelitian ini juga menggambarkan karakteristik responden. Mayoritas peserta penelitian merupakan lansia awal berusia 60–69 tahun, yang mencapai 77,1 persen dari total responden. Dari sisi jenis kelamin, kelompok laki-laki mendominasi dengan proporsi sekitar 60,4 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa kelompok lansia awal menjadi kelompok yang cukup rentan mengalami peningkatan kadar asam urat sehingga memerlukan perhatian khusus dalam upaya pencegahan maupun pengelolaan penyakit.
Dalam pembahasannya, Fatiarisa menjelaskan bahwa bunga kembang sepatu mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, polifenol, tanin, dan antosianin. Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi serta berpotensi menghambat kerja enzim xanthine oxidase, yakni enzim yang berperan dalam pembentukan asam urat di dalam tubuh. Mekanisme inilah yang diduga berkontribusi terhadap penurunan kadar asam urat pada responden penelitian.
Lebih jauh, penelitian ini juga menyoroti potensi besar pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA). Kembang sepatu merupakan tanaman yang mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, tumbuh baik di berbagai kondisi wilayah, dan relatif aman digunakan sebagai terapi pendamping. Karena itu, hasil penelitian ini membuka peluang bagi fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya puskesmas, untuk mengembangkan edukasi pemanfaatan tanaman obat lokal sebagai bagian dari strategi promotif dan preventif dalam pengelolaan penyakit tidak menular.
Pada akhirnya, penelitian karya Fatiarisa Fadhillah memberikan bukti bahwa rebusan bunga kembang sepatu memiliki prospek sebagai terapi nonfarmakologis yang efektif, alami, dan terjangkau untuk membantu menurunkan kadar asam urat pada lansia. Meski demikian, peneliti merekomendasikan agar penelitian lanjutan dilakukan dengan durasi intervensi yang lebih panjang serta pengendalian variabel lain yang dapat memengaruhi kadar asam urat, sehingga manfaat tanaman ini dapat dipahami secara lebih komprehensif. (ed. Sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

