Representasi Rasisme dalam Film 42, Kisah Jackie Robinson dan Perlawanan terhadap Diskriminasi Rasial
17 June 2026

mimin

Magelang, Juni 2026 — Isu rasisme ternyata masih menjadi topik yang relevan untuk dibahas, termasuk melalui medium film. Hal inilah yang mendorong Bagaskoro Kusumo Indrastoto, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Humaniora, Universitas Muhammadiyah Magelang, melakukan penelitian mendalam terhadap film 42 melalui skripsinya yang berjudul “Representasi Rasisme dalam Film 42 (Analisis Semiotika Roland Barthes)”.

Penelitian tersebut menyoroti bagaimana film 42 merepresentasikan praktik diskriminasi rasial yang dialami tokoh utama, Jackie Robinson, atlet kulit hitam pertama yang berhasil menembus Major League Baseball (MLB) di Amerika Serikat pada era segregasi rasial.

Dalam penelitiannya, Bagaskoro melihat bahwa film bukan sekadar media hiburan, tetapi juga sarana komunikasi massa yang mampu menyampaikan kritik sosial. Menurutnya, film 42 menyimpan banyak simbol yang menggambarkan ketidakadilan rasial yang terjadi secara terang-terangan maupun terselubung.

“Film ini tidak hanya menceritakan perjuangan Jackie Robinson sebagai atlet, tetapi juga memperlihatkan bagaimana rasisme bekerja dalam kehidupan sosial masyarakat Amerika saat itu,” tulis Bagaskoro dalam penelitiannya.

Untuk membedah makna di balik adegan-adegan tersebut, Bagaskoro menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes, yakni metode analisis tanda yang membedah makna dalam tiga lapisan: denotasi, konotasi, dan mitos. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi adegan film serta dokumentasi.

Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi bagaimana bentuk-bentuk rasisme direpresentasikan dalam film 42, sekaligus memahami pesan sosial yang ingin disampaikan melalui narasi film tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan adegan utama yang merepresentasikan tindakan rasisme terhadap Jackie Robinson. Dari jumlah tersebut, peneliti menemukan dua bentuk besar diskriminasi rasial, yakni personal racism dan institutional racism.

Pada kategori personal racism, Bagaskoro menemukan enam adegan yang menunjukkan diskriminasi secara langsung dari individu terhadap Jackie Robinson. Bentuknya beragam, mulai dari wartawan yang meragukan kemampuannya hanya karena warna kulit, rekan satu tim yang meremehkannya, hingga hinaan terbuka dari lawan tanding dan penonton saat pertandingan berlangsung.

Salah satu adegan yang menjadi sorotan adalah ketika Jackie diwawancarai wartawan. Secara denotatif, adegan itu hanya menampilkan sesi wawancara biasa. Namun secara konotatif, ekspresi skeptis wartawan menunjukkan keraguan terhadap kemampuan atlet kulit hitam di dunia olahraga profesional.

Tak hanya itu, penelitian ini juga menemukan bentuk institutional racism, yakni diskriminasi yang dilakukan melalui sistem atau lembaga tertentu. Dua adegan yang paling menonjol adalah ketika Jackie dilarang menggunakan toilet umum di pom bensin dan saat dirinya bersama sang istri ditolak naik pesawat.

Menurut Bagaskoro, dua adegan tersebut menunjukkan bahwa rasisme saat itu telah terstruktur dalam sistem sosial dan pelayanan publik.

“Rasisme tidak hanya dilakukan oleh individu, tetapi juga dilembagakan melalui aturan sosial yang membatasi hak kelompok kulit hitam,” ungkap hasil penelitian tersebut.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa film 42 berhasil menggambarkan rasisme sebagai ideologi dominasi kulit putih yang telah mengakar kuat di masyarakat Amerika pada masa itu. Di sisi lain, film tersebut juga menghadirkan pesan perlawanan melalui karakter Jackie Robinson yang memilih bertahan, berprestasi, dan membuktikan dirinya di tengah diskriminasi.

Melalui riset ini, Bagaskoro berharap kajian semiotika dalam film dapat terus berkembang, sekaligus meningkatkan kesadaran publik bahwa rasisme, dalam bentuk apa pun, masih menjadi persoalan serius yang perlu dilawan bersama.(ed. Sulistya)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance