Magelang, 19 November 2025 – Dalam satu dekade terakhir, dunia farmasi mengalami perkembangan pesat melalui pemanfaatan nanoteknologi. Salah satu inovasi yang semakin menonjol ialah nanokrim, sebuah bentuk nanoemulsi semi-solid yang digunakan secara topikal dan menawarkan keunggulan penyerapan zat aktif yang lebih optimal. Tren kembali pada bahan-bahan alami juga mendorong para peneliti untuk mengeksplorasi bagaimana ekstrak tumbuhan dapat diolah menjadi sediaan nanokrim yang stabil, efektif, dan aman untuk penggunaan jangka panjang.
Sebuah telaah literatur yang dilakukan oleh Tri Widyantoro memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana nanokrim berbahan alam diformulasikan, teknologi apa saja yang digunakan, serta bagaimana stabilitasnya diuji dan dinilai. Kajian ini memanfaatkan enam jurnal ilmiah terpilih terbitan sepuluh tahun terakhir, sehingga menyajikan peta pengetahuan terkini mengenai perkembangan nanokrim herbal di berbagai penelitian.
Ada tiga tujuan utama yang menjadi fokus tinjauan pustaka ini. Pertama, mengidentifikasi teknologi pembuatan nanokrim yang digunakan dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Kedua, menilai karakteristik fisik nanokrim, terutama ukuran partikel dan pH, dua indikator penting yang menentukan kenyamanan pemakaian dan stabilitas produk. Ketiga, menelaah stabilitas sediaan dalam berbagai kondisi penyimpanan, yang menjadi parameter kritis untuk menentukan daya simpan dan kelayakan produk sebelum dipasarkan.
Ketiga tujuan tersebut menjadi penting karena nanokrim memiliki perilaku khas sebagai sistem koloid yang mudah mengalami ketidakstabilan seperti creaming ataupun koalesens. Dengan kata lain, pemahaman tentang bagaimana nanokrim dibuat dan diuji merupakan pondasi untuk mengembangkan produk kosmetik dan farmasi berbasis bahan alam yang berkualitas.
Teknologi di Balik Nanokrim: Dari Kecepatan Tinggi hingga Tekanan Tinggi
Hasil kajian menunjukkan bahwa dua metode paling dominan dalam pembuatan nanokrim ialah High Speed Homogenization (HSH) dan High Pressure Homogenization (HPH).
1. High Speed Homogenization (HSH)
Metode ini menjadi teknik favorit karena relatif mudah dilakukan, tidak memerlukan alat bertekanan tinggi, serta efektif menghasilkan ukuran partikel berskala nano. Dalam beberapa studi, peneliti menggunakan kecepatan 8.000 hingga 19.000 rpm untuk menciptakan emulsi yang halus. Penelitian tentang nanokrim dari ekstrak bunga marigold, minyak daun kayu manis, ekstrak kunyit, hingga dedak padi, seluruhnya menunjukkan bahwa variasi kecepatan dan durasi homogenisasi berpengaruh signifikan pada ukuran droplet yang dihasilkan. Hal menarik yang ditemukan adalah bahwa semakin lama waktu homogenisasi, ukuran partikel cenderung makin kecil, sebagaimana terjadi pada formulasi nanokrim γ-oryzanol dari dedak padi. Hanya dalam 20 menit homogenisasi, ukuran partikel dapat mencapai sekitar 48 nm, sebuah ukuran yang sangat kecil dan ideal untuk meningkatkan permeasi zat aktif pada kulit.
2. High Pressure Homogenization (HPH)
Meski jarang digunakan karena biayanya yang tinggi, metode ini tetap muncul pada satu penelitian pembuatan nanokrim dari minyak zaitun dan virgin coconut oil. Menggunakan teknik ini, peneliti memperoleh ukuran partikel stabil sekitar 200 nm, serta menghasilkan emulsi berwarna putih transparan tanpa pemisahan fase. Ini menunjukkan bahwa meskipun mahal, teknologi tekanan tinggi mampu memberikan hasil yang unggul khususnya untuk bahan dengan viskositas rendah hingga sedang.
Karakteristik Nanokrim: Antara pH, Ukuran Partikel, dan Kenyamanan Kulit
Dari seluruh penelitian yang direview, diperoleh kesimpulan menarik bahwa pH nanokrim dari bahan alam umumnya berada pada kisaran 5–7, nilai yang sesuai dengan pH fisiologis kulit manusia. Itu berarti sediaan tidak menimbulkan iritasi dan aman digunakan dalam jangka panjang.
Sementara itu, dari sisi ukuran partikel, seluruh formulasi berada dalam rentang 20–500 nm, sesuai definisi nanoemulsi. Angka-angka ini penting karena semakin kecil ukuran partikel, semakin luas luas permukaan kontak, yang berakibat pada percepatan serapan zat aktif ke dalam kulit.
Menariknya, salah satu penelitian menemukan bahwa peningkatan kecepatan homogenisasi tidak selalu menurunkan ukuran partikel. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lain seperti jenis surfaktan, viskositas, dan komposisi fase minyak juga memegang peranan penting dalam menentukan hasil akhir sediaan.
Stabilitas: Ujian Utama bagi Nanokrim Berbahan Herbal
Tidak ada gunanya sebuah produk memiliki ukuran partikel optimal bila tidak stabil selama penyimpanan. Terkait hal ini, seluruh penelitian yang direview melaporkan temuan serupa: nanokrim berbahan alam dari berbagai ekstrak menunjukkan kestabilan fisik yang baik. Beberapa formulasi diuji dengan:
-
penyimpanan jangka pendek 30–90 hari,
-
siklus pemanasan-pendinginan pada 4°C dan 45°C,
-
atau uji sentrifugasi pada 3.500 rpm.
Hasilnya konsisten: tidak terjadi creaming, koalesens, ataupun pemisahan fase, dan tidak ditemukan perubahan signifikan pada warna, bau, maupun tekstur. Hal ini membuktikan bahwa formula berbasis nano memiliki ketahanan lebih tinggi dibanding sediaan krim konvensional.
Berdasarkan hasil penelusuran terhadap enam artikel, penelitian ini menyimpulkan bahwa:
- Teknologi HSH adalah metode paling umum dan efektif untuk menghasilkan nanokrim berbahan alam dengan ukuran partikel ideal.
- Seluruh formulasi memiliki pH aman dan ukuran partikel sesuai standar nano, yaitu di bawah 500 nm.
- Nanokrim dari bahan alam terbukti stabil, bahkan setelah diuji dalam kondisi ekstrem, sehingga potensial dikembangkan untuk industri farmasi dan kosmetik. (ed. sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

