Seleksi Atlet PB Mutiara Kini Lebih Objektif dengan Sistem AHP
1 September 2025

Istiarni Atin

Magelang, 01 September 2025 – Klub bulutangkis PB Mutiara, yang bermarkas di Grabag, Kabupaten Magelang, dikenal aktif mencetak bibit atlet muda. Setiap pekan, puluhan remaja berusia 17 tahun mengikuti latihan rutin. Namun, saat tiba giliran seleksi untuk menentukan siapa yang layak mewakili klub dalam turnamen, pelatih sering dihadapkan pada dilema: bagaimana menilai secara adil dan objektif di tengah banyaknya kriteria yang harus diperhitungkan.

Permasalahan inilah yang coba dijawab oleh Muhammad Novaldi Restu Ramanda, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Magelang. Dalam skripsinya, ia merancang Sistem Pendukung Keputusan (SPK) berbasis metode Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk membantu pelatih menyeleksi atlet secara lebih transparan dan terukur .

Latar Belakang

Selama ini, seleksi atlet PB Mutiara dilakukan secara manual. Pelatih mengandalkan insting serta catatan kehadiran atau jam terbang latihan. Akibatnya, proses seleksi kerap dianggap subjektif dan memakan waktu lama. Di sisi lain, tuntutan pertandingan semakin kompetitif sehingga klub membutuhkan sistem yang dapat menilai kemampuan atlet berdasarkan kriteria teknis dan fisik yang jelas.

Novaldi menilai, tanpa bantuan teknologi, sulit bagi pelatih menimbang semua aspek dengan presisi. Karena itu, ia menghadirkan sistem berbasis komputer yang mampu menyusun prioritas penilaian, sehingga hasil seleksi lebih akurat .

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan merancang dan membangun sistem pendukung keputusan untuk menyeleksi atlet bulutangkis U-17 tunggal PB Mutiara. Dengan metode AHP, sistem ini dapat menghitung bobot tiap kriteria—mulai dari stamina, footwork, lompatan, smash, hingga pertahanan—lalu menghasilkan rekomendasi atlet terbaik yang layak diturunkan di turnamen .

Metode Penelitian

Novaldi menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) yang terkenal efektif dalam menangani persoalan multi-kriteria. Proses dimulai dengan menyusun hirarki permasalahan, menentukan kriteria penilaian, hingga membuat matriks perbandingan berpasangan antar kriteria.

Data penelitian dikumpulkan melalui observasi langsung di Gedung Serba Guna Margo Utomo, tempat PB Mutiara berlatih. Ia juga mewawancarai pelatih serta mendokumentasikan data atlet yang mengikuti seleksi. Sistem kemudian dibangun menggunakan bahasa pemrograman PHP dan basis data MySQL, lengkap dengan antarmuka untuk pelatih dan atlet .

Hasil Penelitian

Sistem yang dikembangkan mampu menampilkan hasil seleksi secara otomatis berdasarkan nilai akhir tiap atlet. Dari delapan kriteria utama yang ditetapkan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI)—stamina, kecepatan kaki, lompatan, smash, servis, pukulan lob, netting, dan pertahanan—masing-masing diberi bobot sesuai tingkat kepentingannya.

Uji coba sistem menunjukkan hasil sangat memuaskan. Pelatih dapat melihat rangking atlet berdasarkan skor total, sehingga keputusan lebih mudah diambil tanpa harus bergantung pada subjektivitas. Sistem juga menyediakan fitur pendaftaran online, input nilai atlet, serta laporan hasil seleksi yang bisa diakses secara cepat .

Hasil pengujian dengan metode black box memperlihatkan bahwa seluruh fungsi berjalan dengan baik. Lebih dari itu, sistem dinilai “sangat terpenuhi” oleh pengguna, menandakan bahwa kebutuhan pelatih terhadap alat bantu seleksi sudah terjawab dengan optimal .

Pembahasan

Novaldi menjelaskan bahwa keunggulan AHP dibanding metode lain seperti TOPSIS atau SAW terletak pada kemampuannya mengukur konsistensi penilaian. Dengan AHP, pelatih bisa memastikan bahwa bobot antar kriteria tidak saling bertentangan.

Lebih jauh, sistem ini bukan hanya membantu memilih atlet terbaik, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi klub untuk terus memperbaiki proses pembinaan. Atlet dapat melihat aspek mana yang masih lemah dan perlu ditingkatkan, sementara pelatih memiliki dasar objektif untuk memberikan evaluasi.

Kesimpulan

Skripsi karya Muhammad Novaldi Restu Ramanda menyimpulkan bahwa sistem pendukung keputusan berbasis AHP efektif membantu proses seleksi atlet bulutangkis U-17 tunggal di PB Mutiara Magelang. Dengan sistem ini, seleksi menjadi lebih objektif, transparan, dan efisien, sekaligus mengurangi beban subjektivitas pelatih.

Bagi klub amatir seperti PB Mutiara, temuan ini sangat berarti. Sistem seleksi modern bisa menjadi modal penting untuk mencetak atlet berprestasi, sekaligus menunjukkan bahwa teknologi informasi mampu memberikan kontribusi nyata dalam dunia olahraga. (ed-AIS)

Sumber: repository UNIMMA