Senam Otak: Solusi Mengatasi Kecemasan Anak Sekolah
2 September 2025

jww

Magelang, 02 September 2025 – Kecemasan pada anak usia sekolah menjadi fenomena yang semakin mendapat perhatian serius, terutama ketika gejala tersebut mulai mengganggu proses belajar. Hal inilah yang mendorong Indra Pramudianto, mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang, untuk meneliti efektivitas Brain Gym atau senam otak sebagai salah satu metode sederhana dalam menurunkan tingkat kecemasan anak.

Tema Penelitian

Karya tulis ilmiah yang disusun Indra Pramudianto mengangkat judul “Aplikasi Brain Gym Terhadap Kecemasan Pada Anak Usia Sekolah 10 Tahun”. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa anak-anak, khususnya usia sekolah dasar, kerap mengalami kecemasan dalam kegiatan belajar. Data Riskesdas 2018 bahkan mencatat prevalensi kecemasan pada anak sekolah dasar mencapai 68,4 persen—angka yang lebih tinggi dibandingkan tingkat kecemasan siswa SMP yang hanya 31,6 persen.

Brain Gym, yang dikembangkan oleh Paul E. Dennison dan Gail Dennison, dikenal sebagai rangkaian gerakan sederhana untuk menstimulasi kerja otak kiri dan kanan, serta membantu menyelaraskan tubuh dan pikiran. Senam otak ini dirancang agar anak mampu lebih rileks, fokus, dan siap menghadapi aktivitas belajar.

Tujuan Penelitian

Dalam studinya, Indra merumuskan tujuan umum yaitu menerapkan aplikasi Brain Gym pada anak usia sekolah 10 tahun yang mengalami kecemasan. Sementara tujuan khususnya meliputi:

  • Melakukan pengkajian pada klien,
  • Merumuskan diagnosa keperawatan sesuai standar (SDKI),
  • Menyusun perencanaan serta implementasi keperawatan,
  • Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah diberikan,
  • Serta mendokumentasikan seluruh proses asuhan keperawatan.

Lebih jauh, penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi tenaga kesehatan, institusi pendidikan, hingga masyarakat luas. Brain Gym diyakini dapat menjadi alternatif praktis yang bisa dilakukan di rumah maupun sekolah sebagai bentuk pencegahan sekaligus penanganan awal kecemasan anak.

Metode Penelitian

Studi kasus dilakukan di Kabupaten Magelang dengan melibatkan seorang responden berusia 10 tahun yang mengalami kecemasan saat belajar. Proses penelitian dilaksanakan selama 14 hari dengan 7 kali kunjungan, di mana Brain Gym diaplikasikan sebanyak 6 kali. Setiap sesi berlangsung sekitar 25 menit. Tingkat kecemasan anak diukur menggunakan Hamilton Rating Scale for Anxiety (HARS).

Hasil Penelitian

Hasil pengamatan menunjukkan adanya penurunan signifikan pada tingkat kecemasan responden. Berdasarkan lembar observasi, skor HARS anak turun secara bertahap:

  • 25 Mei: skor 21
  • 29 Mei: skor 17
  • 2 Juni: skor 14
  • 4 Juni: skor 11

Penurunan skor tersebut menandakan bahwa gejala kecemasan berangsur membaik. Anak yang sebelumnya sulit fokus dan mudah tegang mulai menunjukkan tanda-tanda lebih tenang, mampu berkonsentrasi, dan beradaptasi dengan aktivitas belajarnya.

Kesimpulan Penelitian

Dari hasil studi ini, Indra menyimpulkan bahwa penerapan Brain Gym efektif untuk menurunkan tingkat kecemasan pada anak usia sekolah. Gerakan-gerakan sederhana seperti burung hantu, lambaian kaki, luncuran gravitasi, hingga kuda-kuda terbukti membantu relaksasi sekaligus meningkatkan koordinasi otak dan tubuh.

Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa Brain Gym dapat dijadikan sebagai intervensi non-farmakologis yang aman, mudah dilakukan, dan minim risiko. Bahkan, orang tua maupun guru dapat mempraktikkannya secara rutin bersama anak, tanpa memerlukan alat khusus maupun biaya tambahan.

Harapan Peneliti

Indra berharap hasil karyanya tidak hanya bermanfaat di ranah akademik, tetapi juga bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Bagi tenaga kesehatan, temuan ini dapat dijadikan referensi tambahan dalam memberikan asuhan keperawatan terkait kecemasan anak. Sementara bagi masyarakat, Brain Gym dapat dipakai sebagai metode sederhana dalam mendampingi anak menghadapi tekanan belajar di sekolah maupun lingkungan sosialnya.

Catatan Redaksi: Penelitian ini menambah bukti bahwa intervensi sederhana seperti senam otak bisa memberikan dampak positif bagi kesehatan mental anak. Dengan meningkatnya kasus kecemasan pada usia sekolah, pendekatan non-obat seperti Brain Gym menjadi solusi yang layak untuk diperkenalkan lebih luas di masyarakat. (ed. Wied)

Sumber: Repositori UNIMMA