Magelang, Juli— Penelitian yang dilakukan oleh Ibnu Hasyim Ashari dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Magelang menyoroti kekuatan electronic word of mouth (E-WOM) sebagai strategi pemasaran dalam meningkatkan jumlah pengunjung objek wisata alam Wapitt di Temanggung.
Mengangkat tema “E-WOM sebagai Strategi Pemasaran Objek Wisata Alam Wapitt”, riset ini berangkat dari fenomena pesatnya perkembangan komunikasi digital yang menggeser pola promosi tradisional ke ranah media sosial. Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk menganalisis bagaimana E-WOM dimanfaatkan sebagai alat promosi, serta sejauh mana pengaruhnya terhadap peningkatan minat kunjungan wisatawan.
Dalam kajiannya, Ibnu Hasyim menyoroti bahwa Wapitt—destinasi wisata alam berbasis hutan pinus di kawasan Jumprit, Temanggung—mengandalkan media sosial, terutama Instagram, sebagai kanal utama penyebaran informasi. Konten berupa promosi, event, hingga pengalaman pengunjung menjadi pemicu munculnya interaksi digital berupa komentar, ulasan, dan rekomendasi yang kemudian membentuk persepsi publik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi E-WOM di Wapitt berjalan melalui tiga indikator utama, yakni rating, review, dan recommendation (3R). Ketiganya menjadi faktor kunci dalam membangun kepercayaan calon pengunjung. Ulasan positif terbukti mampu meningkatkan minat kunjungan, sementara komentar negatif tetap menjadi bahan evaluasi pengelola untuk memperbaiki layanan.
Secara empiris, data kunjungan menunjukkan tren peningkatan signifikan dari tahun ke tahun, kecuali pada masa pandemi COVID-19. Setelah periode tersebut, lonjakan kembali terjadi, yang dalam penelitian ini dikaitkan dengan efektivitas strategi E-WOM. Informasi yang tersebar secara organik melalui pengalaman pengunjung dinilai lebih kredibel dibandingkan promosi konvensional.
Penelitian ini juga menemukan bahwa keunggulan utama E-WOM terletak pada biaya yang relatif rendah, jangkauan luas, serta kecepatan penyebaran informasi. Namun, di sisi lain, kontrol terhadap konten menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika muncul ulasan negatif yang dapat memengaruhi citra destinasi.
Sebagai kesimpulan, Ibnu Hasyim menegaskan bahwa E-WOM bukan sekadar pelengkap, melainkan strategi inti dalam pemasaran wisata modern. Dengan pengelolaan yang tepat, interaksi digital dari pengunjung dapat menjadi aset promosi yang efektif dan berkelanjutan. Penelitian ini sekaligus merekomendasikan agar pengelola wisata lebih aktif mengelola konten digital dan respons terhadap ulasan publik guna menjaga reputasi serta meningkatkan daya tarik destinasi.
Riset ini menegaskan satu hal: di era digital, suara pengunjung bukan hanya testimoni, melainkan mesin utama yang menggerakkan arus wisata. (ed. adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

