Strategi Guru Kelas Mengisi Kekosongan Guru PAI di SDN Paten 1 Magelang
1 September 2025

novi

Magelang 1 September 2025 – Kekosongan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sejumlah sekolah dasar masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Magelang. Kondisi ini memaksa sekolah mencari solusi agar pembelajaran agama tetap berjalan sebagaimana mestinya. Fenomena inilah yang mendorong Erviana Solikhatun Markhati, mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang, untuk meneliti lebih dalam melalui skripsinya berjudul “Strategi Guru Kelas dalam Mengajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Paten 1 Magelang”.

Penelitian yang diselesaikan pada 2022 ini berangkat dari kenyataan bahwa banyak sekolah dasar di Magelang kehilangan tenaga pengajar PAI akibat tidak adanya pengangkatan baru dari pemerintah, sementara guru-guru lama sudah memasuki masa purna tugas. SDN Paten 1 di Kecamatan Dukun, Magelang, menjadi salah satu sekolah yang terdampak. Akibatnya, kepala sekolah mengambil kebijakan agar guru kelas ikut mengampu mata pelajaran PAI.

Tujuan Penelitian

Dalam karyanya, Erviana menegaskan bahwa tujuan penelitian ini ada dua. Pertama, untuk mengetahui strategi apa saja yang digunakan guru kelas dalam mengajar PAI di SDN Paten 1, serta bagaimana dampaknya terhadap siswa. Kedua, untuk mengidentifikasi faktor penghambat maupun pendukung yang memengaruhi keberhasilan guru dalam menyampaikan pelajaran agama.

Dengan pendekatan kualitatif, peneliti melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap guru kelas I, V, dan VI, serta menggali data dari kepala sekolah dan siswa.

Strategi yang Digunakan Guru

Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dominan yang dipakai adalah Teacher Centered Learning (TCL) atau pembelajaran berpusat pada guru. Dalam metode ini, proses belajar berlangsung satu arah: guru aktif menyampaikan materi, sementara siswa lebih banyak mendengarkan.

Strategi ini memiliki sisi positif sekaligus negatif. Dari sisi positif, siswa lebih mudah memahami dan menerima materi karena alur pembelajaran jelas dan terarah. Pengetahuan mereka tentang PAI pun meningkat. Namun di sisi lain, jika digunakan terlalu lama, strategi ini membuat siswa bosan, mengantuk, bahkan cenderung pasif karena kurang adanya aktivitas kreatif.

Selain TCL, guru juga menyelipkan beberapa metode sederhana seperti hafalan doa dan surat pendek, praktik sholat dhuha berjamaah, hingga tanya jawab singkat untuk memastikan pemahaman siswa. Meskipun tidak sevariatif guru PAI yang memang terlatih di bidangnya, strategi ini dinilai cukup efektif menjaga keberlangsungan pembelajaran agama di sekolah.

Faktor Pendukung dan Penghambat

Erviana menemukan adanya faktor penghambat yang cukup signifikan. Pertama, jumlah siswa di sekolah relatif sedikit, sehingga suasana kelas kadang kurang dinamis. Kedua, keterbatasan fasilitas sekolah membuat guru sulit menggunakan media pembelajaran yang lebih variatif. Keterbatasan ini membuat proses belajar kadang hanya bertumpu pada buku teks dan penjelasan lisan.

Namun di balik kendala tersebut, ada faktor pendukung yang cukup kuat. Kebijakan kepala sekolah yang memberi kepercayaan penuh kepada guru kelas untuk mengampu PAI menjadi dorongan moral tersendiri. Selain itu, adanya kesepakatan bersama antar guru bahwa mereka siap mengisi kekosongan peran guru agama, menjadikan proses pembelajaran tetap berjalan, meskipun tidak ideal.

Hasil dan Kesimpulan

Penelitian Erviana menyimpulkan bahwa meskipun guru kelas bukanlah tenaga pengajar khusus PAI, mereka mampu mengambil alih peran dengan strategi sederhana namun terarah. Dampaknya cukup nyata: siswa tetap memperoleh pengetahuan agama, meski kreativitas dan keaktifan mereka dalam pembelajaran masih terbatas.

Kekurangan fasilitas dan keterbatasan variasi metode menjadi catatan penting yang perlu diperhatikan. Erviana menekankan, keberhasilan pembelajaran PAI tidak bisa hanya mengandalkan ceramah, tetapi perlu disokong dengan media, metode, dan kreativitas agar siswa lebih aktif dan tidak cepat bosan.

Penelitian ini sekaligus memberi gambaran nyata tentang kondisi lapangan pendidikan agama di daerah yang masih kekurangan tenaga guru. Lebih jauh, hasilnya bisa menjadi rujukan bagi pihak sekolah maupun pemerintah daerah untuk mencari solusi jangka panjang dalam pengadaan guru PAI, sekaligus memperkuat strategi pembelajaran yang lebih efektif.

Penutup

Lewat kajiannya, Erviana Solikhatun Markhati berhasil menyuguhkan potret bagaimana guru kelas berperan ganda dalam mengisi kekosongan guru PAI di SDN Paten 1 Magelang. Penelitiannya tidak hanya menyoroti strategi yang diterapkan, tetapi juga menegaskan pentingnya dukungan sistem pendidikan agar pembelajaran agama di sekolah dasar tetap berjalan baik. Sebuah penelitian yang layak diapresiasi, sekaligus menjadi alarm bagi pemangku kebijakan pendidikan di tingkat daerah maupun nasional. (ed: noviyanti)

sumber : repository UNIMMA