Magelang, Juli–Di tengah meningkatnya angka gangguan kesehatan jiwa di Indonesia, sebuah karya tulis ilmiah dari mahasiswa D3 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Magelang, Windria Kusuma Dewi, menyoroti pendekatan sederhana namun berdampak signifikan dalam penanganan pasien dengan halusinasi pendengaran. Penelitian ini mengangkat tema penerapan teknik distraksi bercerita sebagai intervensi keperawatan pada pasien gangguan persepsi sensori.
Berdasarkan latar belakang penelitian, kasus gangguan jiwa—khususnya skizofrenia—mengalami peningkatan yang cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini kerap disertai gejala halusinasi, terutama halusinasi pendengaran, yang dapat memicu perilaku berbahaya baik bagi pasien maupun lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi penanganan yang efektif, mudah diterapkan, dan mampu membantu pasien mengontrol gejala yang muncul.
Penelitian yang dilakukan oleh Windria bertujuan untuk menggambarkan penerapan teknik distraksi berupa bercerita dalam mengalihkan pikiran pasien dari halusinasi yang dialaminya. Secara khusus, studi ini juga berfokus pada proses asuhan keperawatan secara menyeluruh, mulai dari tahap pengkajian hingga evaluasi hasil intervensi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, dengan subjek pasien yang mengalami halusinasi pendengaran. Intervensi dilakukan melalui pendekatan komunikasi terapeutik, di mana pasien diajak untuk bercerita atau bercakap-cakap guna mengalihkan fokus dari stimulus internal berupa suara halusinatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik distraksi bercerita memiliki dampak positif terhadap kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi. Pasien yang mendapatkan intervensi ini mampu mengidentifikasi waktu munculnya halusinasi, durasi kejadian, serta secara bertahap mengurangi respons terhadap suara yang tidak nyata. Selain itu, pasien juga menunjukkan peningkatan dalam kemampuan berinteraksi dan mengalihkan perhatian ke aktivitas yang lebih adaptif.
Temuan ini sejalan dengan sejumlah penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa terapi bercakap-cakap atau komunikasi interpersonal dapat menjadi strategi efektif dalam menekan gejala halusinasi. Teknik ini bekerja dengan cara mengalihkan fokus kognitif pasien, sehingga stimulus halusinatif tidak lagi menjadi pusat perhatian utama.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa teknik distraksi bercerita merupakan intervensi sederhana namun efektif yang dapat diterapkan oleh tenaga kesehatan, khususnya perawat, dalam menangani pasien dengan halusinasi pendengaran. Selain mudah dilakukan, pendekatan ini juga tidak memerlukan biaya tinggi, sehingga berpotensi menjadi solusi praktis dalam layanan kesehatan jiwa, terutama di fasilitas dengan keterbatasan sumber daya.
Karya Windria Kusuma Dewi ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan praktik keperawatan jiwa, sekaligus membuka peluang bagi penelitian lanjutan terkait metode non-farmakologis dalam penanganan gangguan persepsi sensori. (ed. adm_kuikimmi)
Sumber:Â repositori UNIMMA

