Terapi Musik Klasik Mozart Terbukti Efektif Redakan Nyeri Haid Remaja
30 June 2026

mimin

Magelang, Juni 2026 – Musik klasik karya Wolfgang Amadeus Mozart tidak hanya dikenal sebagai mahakarya seni yang menenangkan, tetapi juga memiliki potensi sebagai terapi nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri haid (dismenore) pada remaja. Temuan tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan Salsanadya Ratumeirisa, mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), melalui penelitian berjudul Pengaruh Terapi Musik Klasik Mozart terhadap Penurunan Nyeri Dismenore pada Remaja: Studi Literature Review.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kejadian dismenore pada remaja putri yang masih menjadi persoalan kesehatan. Nyeri haid tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga berdampak pada aktivitas belajar, konsentrasi, hingga produktivitas remaja di sekolah. Tidak sedikit remaja yang harus mengurangi aktivitas bahkan memilih beristirahat karena nyeri yang dirasakan saat menstruasi.

Melihat kondisi tersebut, Salsanadya berupaya mengkaji efektivitas terapi musik klasik Mozart sebagai salah satu alternatif penanganan nyeri tanpa obat. Pendekatan ini dinilai penting karena terapi nonfarmakologis memiliki risiko efek samping yang jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan obat pereda nyeri secara terus-menerus.

Dalam penelitiannya, Salsanadya menggunakan metode literature review, yakni menelaah berbagai hasil penelitian ilmiah yang telah dipublikasikan sebelumnya. Artikel yang dianalisis berasal dari basis data Google Scholar dan ScienceDirect dengan rentang publikasi tahun 2019–2024. Setelah melalui proses seleksi menggunakan metode PRISMA serta kriteria inklusi dan eksklusi yang ketat, diperoleh empat artikel penelitian yang dinilai memenuhi syarat untuk dianalisis lebih lanjut.

Keempat penelitian tersebut melibatkan responden remaja putri berusia sekitar 12 hingga 18 tahun yang mengalami dismenore primer. Seluruh penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan pengukuran tingkat nyeri sebelum dan sesudah pemberian terapi musik klasik Mozart.

Hasil telaah menunjukkan pola yang konsisten. Terapi dilakukan dengan memperdengarkan musik klasik Mozart melalui telepon genggam atau pemutar musik menggunakan headset selama sekitar 10 hingga 30 menit. Sebelum intervensi, sebagian besar responden mengalami nyeri menstruasi pada kategori sedang hingga berat. Setelah menjalani terapi musik klasik Mozart, intensitas nyeri mengalami penurunan secara signifikan menjadi kategori ringan hingga sedang.

Tidak hanya itu, seluruh artikel yang dianalisis juga menunjukkan nilai signifikansi statistik yang memperkuat bahwa terapi musik klasik Mozart memberikan pengaruh nyata terhadap penurunan nyeri dismenore pada remaja.

Menurut hasil kajian tersebut, efek positif musik Mozart diduga berasal dari tempo musik yang relatif stabil, sekitar 60–80 ketukan per menit, sehingga mampu memberikan efek relaksasi. Kondisi rileks membantu tubuh meningkatkan produksi hormon endorfin dan oksitosin yang berperan sebagai penghambat rasa nyeri sekaligus menurunkan kecemasan selama menstruasi. Musik juga bekerja sebagai teknik distraksi yang mengalihkan perhatian seseorang dari rasa sakit yang sedang dirasakan.

Selain mengurangi persepsi nyeri, terapi musik klasik Mozart dinilai mampu memberikan rasa nyaman, memperlambat denyut jantung, menurunkan ketegangan otot, serta membantu remaja menjadi lebih tenang ketika menghadapi menstruasi. Dengan demikian, terapi ini berpotensi menjadi salah satu intervensi pendukung dalam pelayanan kesehatan remaja maupun praktik keperawatan maternitas.

Berdasarkan hasil analisis empat penelitian tersebut, Salsanadya menyimpulkan bahwa terapi musik klasik Mozart terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan nyeri dismenore pada remaja. Temuan ini sekaligus memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa pendekatan nonfarmakologis dapat menjadi pilihan aman, mudah diterapkan, dan ekonomis dalam membantu mengatasi nyeri menstruasi.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi ilmiah bagi tenaga kesehatan, institusi pendidikan, maupun masyarakat dalam mengembangkan pemanfaatan terapi komplementer untuk mengatasi dismenore. Selain itu, hasil penelitian juga membuka peluang bagi penelitian lanjutan dengan jumlah responden yang lebih besar serta desain penelitian yang lebih beragam agar manfaat terapi musik klasik Mozart dapat dibuktikan secara lebih luas.

Melalui penelitian ini, Salsanadya Ratumeirisa menunjukkan bahwa solusi sederhana seperti mendengarkan musik klasik dapat memberikan manfaat kesehatan yang nyata. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa pendekatan holistik dalam pelayanan kesehatan, termasuk melalui terapi musik, layak mendapatkan perhatian sebagai pelengkap terapi medis dalam meningkatkan kualitas hidup remaja putri yang mengalami nyeri menstruasi. (ed. Sulistya)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance