Magelang, 23 September 2025 – Krisis moral di kalangan generasi muda, mulai dari perilaku bullying hingga penyalahgunaan teknologi, menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan. Sekolah dituntut tidak hanya mencetak siswa berprestasi secara akademis, tetapi juga berkarakter religius, berakhlak, dan berperilaku baik dalam kehidupan sehari-hari. Berangkat dari kegelisahan itu, Widi Hastomo, mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Magelang, mengangkat penelitian bertema “Inovasi Manajemen Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Behavioristik dalam Pembentukan Karakter di SD Muhammadiyah Kutoarjo dan SD Muhammadiyah Kemiri”.
Tema Penelitian
Penelitian ini mengupas bagaimana kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dikelola secara inovatif dengan pendekatan behavioristik dapat membentuk karakter religius siswa. Behavioristik, sebagai teori belajar yang menekankan pembiasaan, pengulangan, serta pemberian stimulus dan respon, dianggap relevan untuk membangun perilaku positif di kalangan siswa sekolah dasar.
Objek kajian adalah dua sekolah Muhammadiyah yang telah lama dikenal menerapkan pendidikan karakter berbasis religius, yakni SD Muhammadiyah Kutoarjo dan SD Muhammadiyah Kemiri.
Tujuan Penelitian
Menurut Widi Hastomo, penelitian ini disusun dengan tiga tujuan utama:
-
Menggali konsep manajemen kurikulum PAI di SD Muhammadiyah Kutoarjo dan Kemiri.
-
Mengetahui sejauh mana penerapan pendekatan behavioristik dalam manajemen kurikulum tersebut.
-
Mengidentifikasi inovasi yang dikembangkan dalam kurikulum PAI berbasis behavioristik guna memperkuat pendidikan karakter siswa.
Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya berhenti pada tataran teori, tetapi juga menilai bagaimana strategi sekolah benar-benar dijalankan dalam praktik sehari-hari.
Hasil Penelitian
Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, Widi menemukan bahwa manajemen kurikulum di kedua sekolah berjalan sesuai konsep POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Perencanaan dilakukan dengan matang, pengorganisasian melibatkan seluruh warga sekolah, pelaksanaan berbasis kegiatan pembiasaan, dan pengawasan dijalankan secara rutin oleh guru serta kepala sekolah.
Adapun inovasi kegiatan berbasis behavioristik yang diterapkan antara lain:
-
Pembiasaan bersalaman setiap pagi antara siswa dengan guru.
-
Majelis pagi sebelum pelajaran dimulai.
-
Sholat dhuhur berjamaah di sekolah.
-
Program keputrian setiap pekan.
-
Malam bina iman dan takwa (Mabit) sebagai pembinaan spiritual.
-
Kegiatan ekstrakurikuler seperti outbond, Hizbul Wathan, dan archery club (panahan).
-
Piket kelas, makan siang bersama, serta pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan.
Menurut Widi, rangkaian inovasi ini terbukti efektif dalam membentuk karakter religius siswa, seperti disiplin ibadah, adab dalam berbicara dan berpakaian, serta kepedulian sosial. Bahkan, kebiasaan positif ini tidak hanya terlihat di sekolah, melainkan juga terbawa ke rumah dan lingkungan sekitar.
Dampak dan Signifikansi
Penelitian ini menyimpulkan bahwa manajemen kurikulum PAI berbasis behavioristik di SD Muhammadiyah Kutoarjo dan Kemiri telah berjalan efektif dan sesuai teori yang ada. Lebih dari itu, hasilnya mampu melahirkan siswa-siswa dengan perilaku religius yang konsisten, sehingga sekolah mendapat kepercayaan tinggi dari masyarakat.
Bahkan, animo orang tua untuk menyekolahkan anak di dua sekolah ini sangat besar, hingga rela mendaftar jauh hari sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi pendidikan karakter memiliki dampak nyata dalam meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga pendidikan.
Kesimpulan
Dalam tesisnya, Widi Hastomo menegaskan bahwa pembentukan karakter religius siswa tidak bisa dilepaskan dari manajemen kurikulum yang inovatif dan konsisten. Teori behavioristik dengan pembiasaan dan penguatan menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk menjawab krisis moral generasi muda.
Secara praktis, penelitian ini bisa menjadi model dan rujukan bagi sekolah lain dalam mengembangkan pendidikan karakter melalui kurikulum PAI. Sementara secara akademis, penelitian ini memperkaya khazanah studi manajemen pendidikan Islam, khususnya dalam konteks inovasi kurikulum dan penguatan pendidikan karakter.
“Sekolah harus menjadi taman belajar yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk perilaku dan akhlak mulia siswa. Dengan manajemen kurikulum yang tepat, pendidikan karakter bisa diwujudkan secara nyata,” tegas Widi Hastomo dalam simpulannya. (ed: Adella)
sumber: repository UNIMMA

